Saatnya Para Petani di Bojonegoro Memiliki Pola Pikir Sebagai Pengusaha
Selasa, 07 Agustus 2018 11:00 WIBOleh Imam Nurcahyo
Oleh Imam Nurcahyo
Bojonegoro - Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro Sally Atyasasmi menilai, selama ini sektor pertanian di Kabupaten Bojonegoro hanya berkutat pada penanaman atau produksi saja, tanpa memikirkan segi bisnis di dalamnya. Diperlukan wawasan dan pentingnya jiwa pengusaha dalam diri para petani.
Dalam jiwa petani harus berkembang kepercayaan diri bahwa petani adalah pengusaha. Dimana seorang pengusaha tidakalah hanya membuat produk, tetapi mereka memikirkan semuanya baik itu dari segi managemen, produksi, pemasaran dan pengembangan.
"Pasca panen, hasil pertanian bisa diolah lagi untuk meningkatkan nilai jual hasil panen itu sendiri," ungkap Sally, Selasa (07/08/2018) kepada beritabojonegoro.com.
Sudah saatnya seorang petani tidak hanya bisa mencangkul dan memanen saja, tetapi mereka harus memikirkan bagaimana melakukan pengolahan, pengemasan dan pemasaran, sehingga hasil dari sektor tersebut menjadi lebih berharga dan bisa bersaing dengan produk yang lainnya.
“Para petani adalah pengusaha yang seharusnya mampu mengembangkan produknya secara mandiri.” lanjut Sally.
Menuru Sally, sejauh ini hanya beberapa persen saja petani di Bojonegoro yang berhasil dalam mengembangkan pertaniannya, sehingga mampu mengangkat roda perekonomian keluarganya.
“Tetapi belum menjadi kekuatan perekonomian yang mampu menggerakkan perekonomian secara merata di pedesaan.” imbuhnya.
Sally menambahkan, selama ini dinas pertanian dan dinas terkait lainnya, belum memberikan dukungannya kepada para petani dalam penanganan pasca panen. Jika dilihat, kalau bicara secara utuh di sektor pertanian itu harusnya mulai dari industri hulu dan hilir.
"Mulai dari pembuatan pupuk sendiri, hingga pengolahan hasil panen," tandasnya.
Dalam industri pengolahan hasil pertanian, kata Sally, bisa merekrut tenaga kerja secara besar-besaran. Justru, akan membuka peluang usaha dan menciptakan wirausaha-wirausaha baru.
"Banyak sekali contoh hasil pengolahan hasil pertanian yang bisa dijadikan bisnis," tandasnya.
Misalnya saja, ketika petani memasuki panen raya, ada selep yang mengolahnya menjadi beras. Kemudian beras tersebut bisa diolah lagi menjadi tepung dan dijadikan bahan makanan selain nasi. Sementara ampas gabah, tidak hanya sekedar dijadikan pakan ternak berupa dedak. tapi bisa diolah lagi dicampur dengan bahan lainnya seperti kulit singkong, dikemas semenarik mungkin dan dijual dengan harga yang cukup tinggi.
"Dan itu tidak bisa sporadis juga, harus memulai pembinaan, salah satunya dengan memberdayakan BUMDes," pungkasnya.(red/imm)












































.md.jpg)






