Kecamatan Tambakrejo Jadi Sumber Bibit Sapi PO Bojonegoro yang Jadi Unggulan Nasional
Senin, 30 Maret 2026 18:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Kecamatan Tambakrejo kini resmi menjadi tumpuan utama dalam upaya pemurnian genetik sapi Peranakan Ongole (PO) di Kabupaten Bojonegoro. Melalui komitmen pemerintah daerah, wilayah ini diproyeksikan sebagai pusat penyediaan bibit ternak lokal yang tidak hanya berkualitas tinggi dan sesuai standar SNI, tetapi juga didukung dengan kepemilikan Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB).
Status Tambakrejo sebagai wilayah sumber bibit bukanlah klaim sepihak, melainkan pengakuan resmi negara yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 356/Kpts/PK.040/6/2015. Keberadaan sapi PO Bojonegoro menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia peternakan nasional karena kemampuannya beradaptasi dengan iklim tropis serta efisiensi pakan yang sangat menonjol.
Secara teknis, sapi asal Tambakrejo ini memiliki lima keunggulan yang menjadikannya bibit unggul, mulai dari tingkat reproduksi yang stabil hingga ketahanan alami terhadap penyakit dan parasit. Selain memiliki persentase daging yang baik, sapi ini juga dikenal mampu mempertahankan produktivitas meski hanya mengandalkan berbagai jenis pakan lokal yang tersedia di sekitar lingkungan peternak.
Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro, Elfia Nuraini, menegaskan bahwa langkah ini merupakan strategi untuk meningkatkan posisi tawar ekonomi peternak di tingkat nasional.
"Kami tidak hanya bicara soal kuantitas, tapi kualitas genetik yang teruji. Dengan status Tambakrejo sebagai wilayah sumber bibit, kita memastikan bahwa setiap sapi PO yang keluar dari sini telah melalui seleksi ketat berstandar SNI dan memiliki SKLB," kata Elfia Nuraini, Senin (30/03/2026).
Dalam upaya menjaga konsistensi kualitas tersebut, pemerintah telah menggulirkan berbagai program pendampingan. Hal ini mencakup layanan inseminasi buatan (IB), program gangrep untuk memacu produktivitas, hingga pemberian vaksin serta obat-obatan secara berkala. Selain itu, penguatan kelembagaan dilakukan melalui pengembangan Kelompok Tani Ternak dan wadah asosiasi peternak yang dinamai Kepo Bojo.
Elfia menambahkan bahwa inovasi program ini dirancang untuk mencapai tiga sasaran sekaligus, yakni pelestarian sumber daya genetik, penyediaan bibit yang berkelanjutan, serta penguatan swasembada daging. Menurutnya, pemurnian plasma nutfah ini secara otomatis akan mendongkrak nilai jual ternak karena kualitas bibitnya sudah diakui di level nasional melalui kolaborasi ekosistem peternakan yang kuat.











































.md.jpg)






