192 Perlintasan KA di Bojonegoro Tak Berpalang Pintu
Rabu, 21 Oktober 2015 14:00 WIBOleh Khoirul Anam
Oleh Khoirul Anam
Kota – Sepekan ini dua kejadian kecelakaan terjadi di perlintasan rel kereta api di wilayah Bojonegoro. Mobil elf yang mengangkut rombongan pengajian tarekat Shadiliyah pada Minggu (18/10) dihantam kereta api barang di perlintasan palang pintu kereta api di Kelurahan Jetak, Kota Bojonegoro. Kemudian, pada Senin (19/10) kepala dusun Piyak yang mengendarai sepeda motor dihantam kereta api saat melintas di perlintasan tak berpalang pintu di Desa Prayungan, Kecamatan Sumberejo.
Kejadian kecelakaan di perlintasan rel kereta api di wilayah Bojonegoro rawan terjadi. Sebab, seiring adanya jalur rel ganda, setiap hari kereta api barang dan penumpang yang lewat di jalur utara meningkat pesat dari sebelumnya.
Berdasarkan pantauan BBC, sapaan BeritaBojonegoro.com, di sepanjang jalur rel kereta api di wilayah Bojonegoro, selama sehari semalam (24 jam) di jalur utara ini ada 112 kereta api barang dan kereta api penumpang yang melintas. Setiap 15 menit sampai 30 menit, ada kereta api yang melintas. Sedangkan, perlintasan rel kereta api di wilayah Bojonegoro mulai dari Kecamatan Padangan sampai Baureno yang belum berpalang pintu sebanyak 192 titik. Selain tidak berpalang pintu, perlintasan rel kereta api itu juga tidak berpenjaga.
Salah satu perlintasan kereta api yang tidak berpalang pintu yakni di kawasan Desa Gampeng, Kecamatan Balen. Sutiman, 40, warga setempat, menjadi relawan penjaga palang pintu di kawasan Desa Gampeng tersebut. Perlintasan kereta api yang tidak berpalang pintu itu, kata dia, rawan terjadi kecelakaan.
“Perlintasan rel kereta api tak berpalang pintu ini harus segera mendapatkan perhatian. Kalau tidak, kasus kecelakaan akan terus terjadi,” ujarnya saat ditemui BBC, sapaan BeritaBojonegoro.com, Rabu (21/10).
Sementara itu menurut Manajer Humas PT KAI Daop IV Semarang, Supriyanto, saat di Bojonegoro, menjelaskan, pemerintah harus segera mencarikan solusi agar kejadian kecelakaan di perlintasan kereta api tidak terulang kembali. Pemerintah daerah, kata dia, bisa membangun jembatan layang atau terowongan bawah tanah di titik-titik jalan perlintasan kereta api tersebut.
“Atau kalau memang bisa dipindahkan atau digabungkan dengan perlintasan terdekat dan perlintasan salah satunya bisa ditutup,” ujarnya.
Ia mengatakan, Pemkab Bojonegoro saat ini juga sudah membangun tujuh palang pintu elektrik di wilayah Bojonegoro dan mempekerjakan 40 petugas penjaga palang pintu. Diharapkan, pemasangan palang pintu elektrik ini dapat mencegah terjadinya kecelakaan. (nam/kik)































.md.jpg)






