Tim Wantannas Kaji Permasalahan dan Pengelolaan Bencana di Kabupaten Bojonegoro
Rabu, 29 Agustus 2018 22:00 WIBOleh Imam Nurcahyo
Oleh Imam Nurcahyo
Bojonegoro - Dihari kedua kunjungan kerja Tim Dewan Ketahanan Nasional (Watannas) di Kabupaten Bojonegoro pada Rabu (29/08/2018), menyambangi Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro di Jalan Ahmad Yani Bojonegoro.
Dalam junjungan tersebut, Tim Wantannas melakukan kajian permasalahan terkait potensi ancaman bencana dan pengelolaan penanggulangan bencana yang ada di Kabupaten Bojonegoro yang untuk akan dilaporkan langsung kepada Presiden Joko Widodo.
Dalam Kunjugan Kerjanya di BPBD Bojonegoro Tim Wantannas yang di ketuai oleh Mayor Jenderal Aris Martono, diterima oleh Sekretaris BPBD Kabupaten Bojonegoro yang sekaligus saat ini selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, Nadif Ulfia SSos.
Dalam Kesempatan tersebut, Nadif Ulfia SSos menyampaikan bahwa di kabupaten Bojonegoro selain terdapat ancaman bencana banjir Benggawan Solo, juga memiliki potensi bencana lain yaitu seperti banjir bandang, banjir genangan, tanah longsor, kekeringan dan gempa bumi.
“Serta bencana kebakaran, baik kebakaran perumahan dan pemukiman atau kebakaran hutan dan lahan.” terang Nadif Ulfia.
Menurut Nadif Ulfia, untuk penanggulangan bencana banjir, khususnya bajir Bengawan Solo, BPBD Bojonegoro telah menyusun prosedur pengendali banjir dan genangan, dengan menggunakan papan duga “
“Papan duga berada di Karangnongko Kecamatan Ngraho, untuk wilayah Bojonegoro bagian barat dan papan duga di TBS Bojonegoro Kota untuk Bojonegoro dan wilayah timur.” jelasnya
Nadif Ulfia juga menjelaskan bahwa ketika terjadi banjir Bengawan Solo, pihaknya telah mempersiapkan langkah-langkah, seperti penutupan doorlaat yang ada di sepanjang tanggul dalam kota Bojonegoro, BKO anggota TNI dan Polri, pengecekan tanggul-tanggul, pendirian dapur umum, pendirian posko lapangan untuk evakuasi serta melakukan update data tinggi muka air (TMA) Bengawan Solo, setiap jam.
“Selanjutnya disosialisasikan kepada masyarakat melalui media sosial maupun konvensional lainnya.” jelas Nadif Ulfia.
Sementara untuk bencana kebakaran, Nadif Ulfia menyampaikan data jumlah kejadian kebakaran yang terjadi di wilayah Kabupaten Bojonegoro, yaitu untuk kebakaran hutan pada Tahun 2017 terjadi 21 kejadian dan di tahun 2018 sampai dengan Bulan Agustus ini terjadi 20 kejadian kebakaran.
“Sedangkan untuk kebakaran perumahan atau pemukiman, pada tahun 2017 terjadi 71 kejadian dan hingga Bulan Agustus 2018 telah terjadi 44 kejadian,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, anggota Wantannas yang diwakili oleh Kolonel Rido Hermawan mengungkapkan, bahwa salah satu tujuan Wantannas datang ke daerah-daerah, termasuk di Kabupaten Bojonegoro, adalah untuk mengkaji permasalahan yang ada di Bojonegoro.
“Hasil kajian tersebut nantinya akan kami sampaikan langsung kepada Presiden Jokowi.” tutur Kolonel Rido Hermawan.
Terkait potensi ancaman bencana yang ada di Bojonegoro, Kolonel Rido Hermawan menyampaikan berberapa hal, yaitu yang pertama terkait dengan rencana tata ruang dan wilayah (RT/RW), yang kedua adanya koordinasi yang baik antar lembaga terkait infrastruktur pengendali banjir, baik banjir Bengawan Solo, banjir genangan maupun banjir bandang .
Yang ketiga terkait peringatan dini terhadap bencana agar memberikan informasi yang jeli dan akurat kepada masyarakat.
“Dan yang terakhir terkait kebakaran hutan agar selalu memberikan pembinaan kepada masyarakat, khususnya yang tinggal di pinggiran hutan, terhadap bahaya kebakaran hutan dan cara penanggulangannya.” pungkasnya
Setelah berkunjung di Kantor BPBD Bojonegoro, tim Wantannas melanjutkan kunjungan dengan melihat lokasi Bengawan Solo di Taman Bengawan Solo (TBS) dan melihat pembanguna groundsill di Bendungan Gerak. (red/imm)












































.md.jpg)






