Selama Oktober, Tiap Dua Hari Ada Rumah Terbakar
Minggu, 01 November 2015 15:00 WIBOleh Mulyanto
Oleh Mulyanto
Kota - Dalam satu bulan kemarin, awal hingga akhir Oktober, telah terjadi 12 peristiwa kebakaran rumah dan gudang di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Jika dirata-rata, maka dapat dihitung per 2-3 hari ada rumah terbakar. Hitungan ini jelas membuat miris warga masyarakat. Begitu mudahnya terjadi kebakaran pada musim kemarau tahun ini.
"Penyebab kebakaran beragam, mulai korsleting listrik, tungku api di dapur, percikan api las, hingga bediang kandang ternak. Tapi yang banyak memang akibat korsleting arus listrik," terang Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, Andik Sudjarwo SSTP MSi kepada beritabojonegoro.com, Sabtu (31/10).
Karena itu, tambahnya, setiap musim kemarau, apalagi musim kering ekstrem seperti sekarang, masyarakat harus lebih berhati-hati ketika beraktivitas dengan api. Pastikan api padam setiap selesai masak, atau jangan membakar sampah dekat dinding rumah mudah terbakar.
"Khusus korsleting listrik, masyarakat perlu paham tentang pengaturan jaringan listrik di rumah. Kondisi sambungan kabel yang menumpuk juga bisa memicu korsleting. Termasuk juga tidak seimbangnya beban arus dengan kualitas kabel, sehingga mudah leleh dan keluar api," imbuhnya.
Terkait kerugian materi akibat kebakaran, khusus dalam Oktober kemarin, paling besar kerugian terjadi saat peristiwa terbakarnya tiga rumah di Desa Tapelan, Kecamatan Ngraho. Kebakaran yang melahap tiga rumah milik Sono, Sani, dan Parti, itu kerugianya mencapai Rp 290 juta. Kerugian itu dihitung berdasarkan kondisi rumah dan seluruh perabotan yang terbakar.
"Menyusul kemudian, peristiwa kebakaran di Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, yang kerugiannya mencapai Rp 275 juta. Ada dua rumah yang terbakar saat itu, yakni milik Siswoto dan Subeki," ucap Andik.
Dia juga menyebut, ada lagi kebakaran tiga gudang tembakau milik Darsono di Desa Bulu, Kecamatan Sugihwaras. Saat itu kerugiannya mencapai Rp 100 juta. Lalu, disusul beberapa kebakaran lain selama Oktober yang kerugiannya masih dibawah Rp 50 juta.
"Begitu besarnya kerugian yang harus ditanggung, sudah sepatutnya kita melakukan pencegahan lebih dini. Dari Pemkab Bojonegoro melalui BPBD juga memberikan sedikit santunan kepada semua korban kebakaran tersebut," pungkasnya. (mol/tap)
*) ilustrasi artimimpi.web.co































.md.jpg)






