HUT ke-13 PDKB, Momentum Menghapus Sekat dan Wujudkan Bojonegoro Ramah Disabilitas
Senin, 06 April 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 Perkumpulan Disabilitas Kabupaten Bojonegoro (PDKB) yang digelar di Desa Lengkong, Kecamatan Balen, Minggu (5/4/2026), menjadi tonggak penting dalam memperjuangkan kesetaraan. Momen ini ditegaskan sebagai komitmen besar untuk menghapus sekat pemisah antara penyandang disabilitas dengan masyarakat umum.
Rangkaian acara berlangsung meriah dengan berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan, mulai dari penyerahan bantuan sosial (bansos) bagi anak yatim dan penyandang disabilitas, layanan cek kesehatan gratis, pameran produk UMKM disabilitas, hingga operasi pasar murah.
Ketua PDKB Bojonegoro, Sanawi, dalam sambutannya mengungkapkan rasa haru atas meningkatnya kesadaran masyarakat serta dukungan pemerintah yang semakin nyata. Ia menegaskan visi besar organisasi untuk menjadikan Bojonegoro sebagai wilayah yang inklusif.
"Harapan kami hanya satu: Bojonegoro menjadi kota yang tidak ada perbedaan antara disabilitas dengan masyarakat normal. Kita sudah memiliki Perda Disabilitas dan payung hukum sehingga tidak ada lagi diskriminasi," ujar Sanawi.
Ia juga mengenang sejarah panjang berdirinya PDKB yang berawal dari perjuangan kolektif di Kediri hingga akhirnya mampu berdiri mandiri di Bojonegoro sebagai wadah pendampingan utama.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Sosial Bojonegoro, Agus Susetyo Hardiyanto, yang hadir mewakili Bupati Bojonegoro, menyatakan bahwa tahun 2026 menjadi momentum penguatan program bagi masyarakat rentan. Pemerintah daerah terus fokus pada akurasi data agar bantuan sosial tepat sasaran, terutama bagi penyandang disabilitas berat dan kronis.
"Kami menyasar semua masyarakat rentan. Melalui perbaikan data tunggal sosial ekonomi nasional yang dibantu oleh perangkat desa dan kader di lapangan, kami ingin memastikan bantuan sosial tepat sasaran," ungkap Agus.
Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa Pemkab Bojonegoro tidak hanya memberikan bantuan konsumtif, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi melalui berbagai pelatihan keterampilan.
"Kami fokus pada program pemberdayaan mandiri, seperti pelatihan menjahit dan tata rias, serta penyediaan alat bantu. Sementara bagi kelompok non-produktif seperti lansia atau warga dengan sakit kronis, akan terus diprioritaskan mendapat jaminan sosial," tambahnya.
Acara yang bertepatan dengan suasana halalbihalal bulan Syawal ini ditutup dengan penekanan pentingnya komunikasi rutin antara pemerintah dan komunitas. Hal ini bertujuan agar kebijakan yang diambil selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan demi mewujudkan Bojonegoro yang benar-benar inklusif.












































.md.jpg)






