Tambang Batu Kapur di Baureno
Penyiraman Tak Sesuai Kesepakatan, Debu Pun Tebal Mengepul
Senin, 02 November 2015 19:00 WIBOleh Khoirul Anam
Oleh Khoirul Anam
Baureno - Masalah tebalnya debu di sepanjang jalur menuju lokasi tambang batu kapur di Desa Gajah, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, masih menjadi sorotan. Kali ini giliran warga Desa Gajah yang mempersoalkannya. Setiap hari kurang lebih 300 dump truck besar keluar masuk lokasi tabang. Akibatnya debu pun mengepul tebal dan sangat menggangu warga Desa Gajah yang tinggal sekitar lokasi.
Pantauan beritabojonegoro.com di lokasi galian batu kapur, Senin (02/11) siang, setiap ada truk lewat pasti debu mengepul, tebal dan terasa menyengat. Pandangan mata dan pernafasan langsung terganggu. Menurut warga sekitar, sebenarnya sudah ada upaya penyiraman, tetapi itu tidak cukup. Karena setahu warga penyiraman hanya dilakukan pada malam hari.
“Usai kesepakatan dengan warga Desa Karang Kembang kemarin, pihak PT Wira Bhumi sebenarnya sudah melaksanakan penyiraman jalan agar debu tidak mengganggu warga. Namun penyiraman hanya dilaksanakan di pintu masuk saja, kadang juga sepanjang jalan menuju lokasi. Itu dilakukan malam hari, jelas tidak berdampak pada debu. Soalnya pagi sudah kembali kering,” ujar Rahmad (40), salah satu warga Desa Gajah, Senin (02/11).
Padahal, dalam kesepakatan di Kantor Dinas ESDM Povinsi Jawa Timur pada 23 Oktober 2015 lalu, PT Wira Bhumi sebagai pemilik kuasa tambang, berjanji menambah frekwensi penyiraman jalan menuju lokasi tambang. Penyiraman jalan ditambah dari lima kali menjadi delapan kali per hari. Selain itu juga ada personel yang mengawasi pemasangan terpal penutup bak truk pengangkut.
Namun, nyatanya penyiraman itu masih kurang dari kesepakatan. Sebab, praktik di lapangan penyiraman kebanyakan hanya dilakukan pada malam hari. Itu pun kadang sebatas pintu masuk saja.
“Debu itu sangat mengganggu pandangan mata dan pernafasan. Kami harap PT Wira Bhumi melakukan penyiraman sesuai kesepakatan, agar debu tidak lagi tebal dan pekat,” imbuh Rahmad.
Sorotan senada disampaikan Suparno (50), warga Desa Gajah lainnya. Dia meminta penanggung jawab tambang batu kapur mau menambah jam dan lokasi penyiraman.
"Yang paling mungkin, dilakukan penyiraman setiap pagi, siang dan malam. Sebab, pada musim kering sekarang ini, penyiraman yang hanya sekadar lewat, tidak berarti apa-apa. Debu akan cepat kering. Akibatnya ya mengepul lagi," tuturnya.
Sebelumnya, selain berjanji menambah frekuensi penyiraman jalan dari lima kali menjadi delapan kali per hari, PT Wira Bhumi Sejati juga akan membangun jalan ke pertambangan dengan lapisan aspal hotmix sepanjang 50 meter. Dikerjakan mulai usai pertemuan hingga 25 Desember 2015. Menetapkan jam operasi disesuaikan dengan RKAB, UKL dan UPL, serta membuat kolam pencucian roda truk pengangkut sebelum keluar dari mulut tambang sebelum 25 Desember 2015.
Kepala Dinas ESDM Provinsi Jatim menegaskan, apabila ketentuan yang sudah disepakati tidak dilaksanakan oleh PT Wira Bhumi, maka Dinas ESDM Provinsi akan memberikan sanksi tegas, sesuai ketentuan berlaku. (nam/tap)
*) Foto truk pengangkut batu kapur di lokasi tambang































.md.jpg)






