Forum Ekonomi Islam Dunia (WIEF) ke 11 di Kuala Lumpur, Malaysia
Bupati: Ada Tawaran Pembangunan Dry Port di Bojonegoro
Selasa, 03 November 2015 08:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kuala Lumpur - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus berupaya mengajak investor membuka inventasi di wilayahnya. Iming-iming kemudahan perizinan, sistim pengupahan murah dan paket insentif investasi, ditawarkan untuk membuka peluang investasi tersebut.
Pemkab menawarkan sistem pengupahan menggunakan Upah Umum Pedesaan (UUP) yang besarannya hanya Rp 1.005.000. Dengan catatan investor bersedia menyerap tenaga kerja lokal dan usaha didirikan di pedesaan. Lalu, juga ditawarkan paket insentif investasi seperti yang sekarang berjalan.
Paket mudah dan murah investasi inilah yang dipromosikan Bupati Bojonegoro Suyoto saat mengikuti ajang internasional 11th World Islamic Economic Forum (WIEF) di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2-5 November 2015 ini.
"Kita terus memantapkan mengundang investor ke Bojonegoro. Pertemuan WIEF di Kuala Lumpur ini menjadi ajang promosi yang tepat untuk membuka peluang investasi itu," ujar Suyoto melalui media sosialnya, Senin (02/11).
Dalam forum ini, imbuhnya, hadir ratusan pelaku bisnis dari Indonesia dan Malaysia. Saat acara jamuan makan malam di Restoran Melayu di lantai 39 sebuah hotel Sekat Menara Kuala Lumpur, tadi malam, tampak hadir Ketua Komite Pengusaha Indonesia-Malaysia Dr Tanry Abeng, Duta Besar RI untuk Malaysia Herman Prayitno, dan President Indonesia Diaspora Network Chapter Malaysia Dato' Sri Chairul Anhar.
Selain itu hadir juga Shalahudin Y Djalil dari Sumatra Incoorporation, Advisor Invertor Management Datuk Suhaidi Sulaiman, Senior Advisor Jean Wong, Chief Executive Officer Malasyia External Trade Development Corporation Dato' Dzulkifli, asosiasi pengusaha sepatu dan tekstil indonesia, juga tokoh bisnis malaysia lainnya.
Menurut Suyoto, dalam acara jamuan makan malam itu mencuat satu tawaran peluang bagi Bojonegoro, yakni pembangunan dry port di Bojonegoro agar bisa sambung langsung dengan Teluk Lamong.
"Tawaran ini datang dari President Global Putra International Group Sumadi Kusuma, salah seorang pengusaha logistik Indonesia dan pernah membangun dry port di Jogjakarta. Dia tertarik untuk menjajagi lebih jauh kemungkinan membangun dry port di Bojonegoro. Sumadi sendiri sudah memiliki perjanjian akses di pelabuhan Teluk Lamong Surabaya," terangnya.
Secara pribadi Kang Yoto menjelaskan, ada banyak pelajaran budaya dalam forum itu. Misalnya, meskipun Malaysia dan Indonesia itu sama-sama rumpun melayu, tapi ada bedanya. Kalau melayu Malaysia lebih bergaya Britis (rasional), sedangkan melayu Indonesia bergaya Belanda (emosional).
"Saling memahami gaya akan membuat kita bisa kerjasama. Diaspora Indonesia di Malasyia juga sedang merancang sistem agar kelak semua pekerja Indonesia ke Malaysia masuk di sektor formal dan tidak ada lagi yang menjadi pembantu. Semoga dengan pertemuan ini banyak investor yang yakin membuka peluang di Bojonegoro," pungkasnya.(ver/tap)































.md.jpg)






