Monumen Gotong Royong
Pemkab Bojonegoro Bangun Monumen dari Kayu Jati Gelondong
Jumat, 06 November 2015 14:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota - Sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk mengenalkan daerahnya sebagai penghasil kayu jati, melalui Dinas Kebudayan dan Pariwisata akan membuat monumen dari kayu jati. Kayu jati yang dipilih adalah gelondong kayu jati berusia tua sepanjang 17 meter yang ditemukan di dasar Sungai Bengawan Solo, dua puluh tahun lalu. Saat ini gelondong kayu jati tua itu disimpan di TPK Bojonegoro. Dan, monumen nantinya diberi nama Monumen Gotong Royong.
Berdasarkan penuturan Sarli Mahyudin (77), sosok yang mempelopori pengangkutan gelondong kayu, dahulu kayu jati tersebut diangkat dari dasar Sungai Bengawan Solo ketika dirinya masih berdinas di Satuan Brimob sekitar tahun 1994.
"Sebenarnya sudah banyak yang mencoba untuk mengangkat kayu tersebut, namun tidak ada yang berhasil. Ketika saya berusaha dan berdoa, ternyata berhasil," ujarnya kepada beritabojonegoro.com, Jumat (06/11).
Sarli menjelaskan, saat itu prosea pengangkatan tidak mudah. Dibutuhkan alat crane untuk memindahkan kayu ke truk. Beberapa kali tali kawat crane sempat terputus. Sehingga harus dibantu dorongan delapan orang dari sekitar tambangan, baru berhasil diangkat dan diamankan di TPK.
"Saya bangga dan senang ketika kayu tersebut diminta oleh Pemkab untuk dijadikan milik bersama. Karena jujur saja, sudah banyak yang menawar, namun saya tolak. Kayu tersebut pernah juga mau dipotong, tapi saya tidak membolehkan. Karena kayu tersebut termasuk langka, dan merupakan temuan, sehingga tidak berbadan hukum," pungkasnya.
Kayu Jati itu berukuran raksasa dengan panjang 17 meter dan diameter 45-50 centimeter. Selain berukuran besar, bentuknya juga unik primitif. Sehingga kayu jati gelondong itu sering dinamakan Mbah Balok.
Menurut Kasi Pelestarian Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro Supriyadi, misi dari pemindahan kayu jati tua itu ke Alun-Alun untuk mengembalikan kejayaan Bojonegoro sebagai penghasil kayu jati.
"Karena pengangkutan kayu ini secara gotong royong, maka nanti monumen kayu itu akan dinamakan Monumen Gotong Royong," pungkasnya. (ver/tap)
*) Foto: Fidel Nikoma































.md.jpg)






