Kecewa, Warga Boikot Tidak Mencoblos Pilkada Tuban
Kamis, 10 Desember 2015 10:00 WIBOleh Rizha Setyawan
Oleh Rizha Setyawan
Tuban – Ada yang beda dalam coblosan Pilkada Tuban yang digelar pada Rabu (09/12) kemarin. Sekitar 240 pemilih di Karangbinangun, Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban memilih memboikot pemilihan kepala daerah (pilkada) daripada mengikuti demokrasi palsu. Pasalnya, masyarakat Gaji kecewa dengan sikap Bupati Fatkhul Huda - sekarang mencalonkan lagi- dan anggota legislatif yang tak membantu menyelesaikan masalah warga.
Koordinator aksi warga Gaji, Abu Nasir mengatakan, ada sekitar 60 kepala keluarga-masing-masing keluarga ada empat pemilik suara- yang datang dekat tempat pemungutan suara (TPS) 6, tapi mereka menolak mencoblos karena merasa kecewa terhadap pemerintahan sekarang ini.
“Boikot ini sebagai tindak lanjut pada waktu demo di (depan kantor) kabupaten. Sekarang warga Gaji bersama keluarga boikot,” terang Nasir.
Nasir bersama warga lainnya merasa dizalimi pihak legislator maupun eksekutif. Mereka merasa selama ini tertindas dengan adanya masalah sengketa tanah milik warga yang dijual kepada pihak PT Semen Indonesia oleh oknum kepala desa. Nasir mengaku, mengetahui kasus penjualan tanah sekitar 2003.
“Kami tidak diperhatikan sebagai warga yang tertindas. DPRD dan bupati tak peduli kepada kami. Otomatis, pilkada hanya basa basi tidak berpihak kepada rakyat kecil,” kecamnya.
Warga Gaji telah mengeluhkan masalah tersebut kepada bupati, para legislator, dan polisi sebagai penegak hukum, tapi laporan tersebut tidak ditindaklanjuti. “Kalau pilkada disebut demokrasi, di Tuban ini hanya demokrasi basa basi, tidak mencerminkan demokrasi untuk kesejahteraan rakyat, tapi demi kekuasaan,” ujarnya.
Warga berkumpul di tanah kosong dekat TPS 6. Tak lama kemudian, mereka membakar satu per satu surat C6 sebagai aksi boikot pilkada. "Saya tidak mencoblos, saya bakar kertas ini,” ujar Tasmani, warga Gaji. (riz/kik)































.md.jpg)






