Pembiayaan Gagal Ginjal oleh BPJS Kesehatan Melonjak Drastis Salip Kasus Kanker
Kamis, 16 April 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Tren kenaikan kasus gagal ginjal kronis di Indonesia menunjukkan grafik yang sangat mengkhawatirkan dengan dampak signifikan pada anggaran kesehatan nasional. Data terbaru menunjukkan beban pembiayaan BPJS Kesehatan untuk penanganan penyakit ini melonjak hingga 400 persen, mencapai angka Rp 13,38 triliun pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2019 yang hanya sebesar Rp 2,32 triliun.
Lonjakan ini membawa gagal ginjal naik ke peringkat kedua sebagai penyakit dengan biaya pengobatan terbesar di Indonesia, menggeser posisi kanker. Meski penyakit jantung masih berada di urutan pertama dengan biaya Rp 17 triliun dari 29,73 juta kasus, gagal ginjal kini membuntuti dengan biaya Rp 13 triliun dari 12,68 juta kasus. Sebagai perbandingan, kanker kini berada di posisi ketiga dengan biaya Rp 10,3 triliun dan stroke sebesar Rp 7,2 triliun.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengidentifikasi bahwa pemicu utama dari ledakan kasus ini adalah komplikasi dari penyakit hipertensi dan diabetes melitus. Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya dapat ditekan jika masyarakat menerapkan gaya hidup sehat sejak dini.
"Concern kita yang utama di diabetes melitus dan hipertensi. Itu yang akan kita kejar dengan pendekatan promotif dan preventif sehingga dalam jangka panjang akan sangat-sangat menurunkan pembiayaan kesehatan," tutur Prihati.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa gagal ginjal sering kali menjadi ancaman yang tidak terlihat atau silent killer. Kondisi gagal ginjal kronis mengharuskan pasien menjalani hemodialisa atau cuci darah seumur hidup untuk menggantikan fungsi organ yang rusak dalam menyaring racun dari tubuh.
"Jadi memang hati-hati, ginjal itu seperti silent killer dan awalnya kenapa orang bisa sakit ginjal? Dia punya hipertensi dan penyakit gula (diabetes melitus) yang tidak terkendali, sehingga pasti akan terganggu dengan ginjalnya," katanya.
Nadia menekankan bahwa tingginya pembiayaan kesehatan mencerminkan jumlah kasus di lapangan yang memang sedang mengalami kenaikan pesat. Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada terhadap asupan makanan dan minuman yang mengandung kadar gula, garam, dan lemak (GGL) tinggi guna menghindari risiko gagal ginjal di masa depan.
"Itu (penyakit gagal ginjal) peningkatannya paling tinggi dibandingkan lainnya dari sisi pembiayaan, berarti kan jumlah kasusnya banyak," sambungnya.
Editor: Mohamad Tohir





































