Bahaya Pijat Cedera Tulang, Dokter RSUD Sumberrejo Ingatkan Pentingnya Penanganan Medis
Sabtu, 23 Mei 2026 15:00 WIBOleh
Bojonegoro - Pijat karena cedera tulang sudah jadi kebiasaan di masyarakat kita. Akan tetapi ada baiknya agar masyarakat untuk tidak sembarangan menangani cedera patah tulang, terutama menghindari tindakan urut atau pijat yang justru berisiko memperparah kondisi pasien.
Peringatan ini disampaikan dalam siaran Selamat Pagi Bojonegoro di Radio Malowopati FM pada Jumat (22/5/2026). Acara edukasi yang membahas mitos dan fakta seputar operasi patah tulang ini digelar oleh Dinas Komunikasi dan Informatika bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, dengan menghadirkan narasumber Dokter Spesialis Orthopedi RSUD Sumberrejo, dr. Muhammad Wildan Faris, Sp. OT.
Dalam dialog tersebut, dr. Faris menjelaskan bahwa asumsi masyarakat mengenai kewajiban pijat saat patah tulang adalah kekeliruan yang dapat memicu dampak buruk bagi tubuh.
“Penanganan yang salah pada patah tulang dapat merusak saraf, pembuluh darah, hingga menyebabkan kecacatan permanen. Karena itu masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami benturan keras atau cedera,” jelas dr. Faris.
Ia menambahkan bahwa penanganan medis tidak melulu harus berakhir di meja operasi, sebab kondisi tulang yang posisinya masih stabil bisa disembuhkan lewat metode non-bedah seperti pemakaian gips atau bidai. Tindakan bedah hanya akan diambil pada situasi mendesak seperti patah tulang terbuka atau kondisi tulang yang bergeser terlalu jauh.
Oleh sebab itu, pemeriksaan medis secara dini sangat disarankan agar struktur tulang tidak menyatu secara keliru atau bahkan gagal tersambung kembali.
“Sebaiknya, lakukan pemeriksaan media secepatnya menggunakan X-ray agar dokter dapat menentukan apakah cidera anda memerlukan operasi atau cukup ditangani secara konservatif,” tandasnya.
Melalui sosialisasi ini, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap warga semakin sadar akan pentingnya penanganan medis yang tepat serta tidak lagi mudah terpengaruh oleh mitos kesehatan yang merugikan.





































