Dampak Anjloknya Rupiah, Harga Beras hingga Minyak Goreng di Bojonegoro Melejit
Selasa, 19 Mei 2026 14:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Nilai tukar rupiah yang terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat mulai berimbas nyata pada sektor perekonomian riil di daerah, termasuk di pasar-pasar tradisional Kabupaten Bojonegoro di mana harga sejumlah barang kebutuhan pokok terpantau merangkak naik secara signifikan.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pedagang maupun konsumen lantaran kenaikan harga terjadi pada komoditas pangan utama yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.
Pantauan media ini di lapangan, lonjakan harga paling mencolok terjadi pada komoditas beras, minyak goreng kemasan, serta beberapa jenis tepung dan kacang-kandangan yang sebagian bahan bakunya masih bergantung pada skema impor.
Salah seorang pedagang pasar kota Bojonegoro, Supriyanto, mengatakan bahwa kenaikan sudah terasa dalam sepekan.
“Kenaikan ini sudah terasa sejak sepekan terakhir, pasokan dari distributor memang sudah naik harganya karena modal mereka juga membengkak akibat nilai tukar dolar yang tinggi,” ujar salah seorang pedagang sembako di pasar tradisional Bojonegoro, Supriyanto, Senin (18/05/2026).
Menurut Supriyanto, harga beras kualitas medium yang sebelumnya bertahan di angka Rp13.000 kini telah menembus Rp14.500 per kilogram, sementara minyak goreng curah maupun kemasan mengalami kenaikan rata-rata Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter dari harga normal sebelumnya.
Para pedagang mengaku dilematis dalam menghadapi situasi ini karena di satu sisi mereka harus mempertahankan margin keuntungan agar modal tidak tergerus, namun di sisi lain daya beli masyarakat cenderung menurun akibat penyesuaian harga tersebut.
“Kami terpaksa mengurangi stok belanjaan ke agen untuk menghindari kerugian kalau nanti harganya tiba-tiba berubah lagi, dan pembeli juga banyak yang protes serta mengurangi jumlah belanjaan mereka,” keluhnya.
Menyikapi fenomena ini, dia berharap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui dinas terkait segera turun tangan guna melakukan intervensi pasar, baik melalui operasi pasar murah maupun pengawasan jalur distribusi agar spekulan tidak memanfaatkan situasi.
“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Sosial yang telah mendukung penuh suksesnya kegiatan ini karena tidak mudah mengelola lembaga selama 13 tahun dan terus bersinergi dan kolaborasi,” terangnya.
Langkah antisipatif dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dinilai sangat krusial dalam waktu dekat ini untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan tetap aman sekaligus menjaga stabilitas harga agar beban ekonomi masyarakat tidak semakin terhimpit.
Hingga berita ini diturunkan, aktivitas transaksi di beberapa pasar induk di Bojonegoro masih berjalan normal meski diwarnai keluhan dari para ibu rumah tangga yang terpaksa memutar otak demi mencukupkan pengeluaran harian mereka.(red/toh)
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mohamad Tohir






































