Antisipasi Kekeringan di Kawasan Tanpa Cekungan Air Tanah, Dinas PU SDA Bojonegoro Normalisasi Kali Jambe
Sabtu, 11 Juli 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) terus memperkuat langkah mitigasi kebencanaan dengan melaksanakan normalisasi Kali Jambe dan saluran afvoer di wilayah Kecamatan Purwosari. Proyek pengerukan sedimentasi ini menjadi langkah strategis demi menjaga ketersediaan pasokan air bagi lahan pertanian, terutama saat memasuki musim kemarau.
Kecamatan Purwosari selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan penyangga produksi pertanian di wilayah barat Kabupaten Bojonegoro dengan total produksi melimpah mencapai sekitar 14.185 ton. Namun, ketika musim kemarau melanda seperti saat ini, pemenuhan kebutuhan air irigasi menjadi tantangan besar bagi para petani setempat karena minimnya curah hujan.
Kondisi tersebut diperparah berdasarkan hasil survei Kementerian Pertanian yang menunjukkan bahwa wilayah Kecamatan Purwosari sama sekali tidak memiliki Cekungan Air Tanah (CAT). Fakta geografis ini menyebabkan sumber pengairan sektor pertanian di wilayah setempat murni hanya mengandalkan aliran Kali Gandong serta tangkapan air hujan.
Memanfaatkan momentum musim kemarau saat debit sungai tengah menurun, pelaksanaan normalisasi dinilai menjadi waktu yang paling tepat. Pengerukan sedimentasi di dasar saluran afvoer dan Kali Jambe yang merupakan anak sungai Kali Gandong tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas tampung air secara maksimal, sekaligus memperlancar arus air hingga menjangkau lahan persawahan secara optimal.
Sejumlah wilayah yang selama ini masuk dalam peta rawan kekeringan di antaranya Desa Donan, Desa Kuniran, Desa Tinumpuk, dan Desa Kaliombo diproyeksikan akan langsung merasakan manfaat positif dari proyek normalisasi ini.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas PU SDA yang telah melaksanakan normalisasi avoer, dan Kali Gandong dan Kali Jambe di Kecamatan Purwosari,” kata Camat Purwosari, Ike Widyaningrum.
Ike Widyaningrum menjelaskan bahwa pengerukan sedimen ini secara otomatis akan memperlancar aliran air sehingga daya tampung sungai melonjak signifikan ketika musim penghujan datang. Dampak jangka pendeknya, distribusi air ke lahan pertanian menjadi lebih merata dan mampu menekan risiko gagal panen akibat kekeringan di sejumlah desa rawan.
"Harapan kami, normalisasi ini menjadi investasi jangka panjang bagi sektor pertanian. Ketika musim hujan tiba, air dapat mengalir lebih lancar menuju areal persawahan sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga dan ketahanan pangan di Kecamatan Purwosari semakin kuat," pungkasnya.
Melalui normalisasi anak sungai di wilayah barat Bojonegoro ini, pemkab berharap infrastruktur pengairan yang prima dapat menjadi kunci utama dalam mempertahankan stabilitas ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan.






































