Waduk di Bojonegoro Mengering, Ditanami Jagung
Sabtu, 01 Agustus 2015 00:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh: Nasruli Chusna
Bojonegoro - Persediaan air di sejumlah waduk Bojonegoro mengering. Seperti terjadi di Waduk Pacal, Kecamatan Temayang, kini tinggal 1 juta meter kubik dari daya tampung sekitar 32 juta meter kubik. Padahal waduk bikinan masa Belanda sekitar tahun 1933 itu menjadi andalan persediaan pengairan pertanian di wilayah selatan dan timur Bojonegoro.
Menurut Kepala Dinas Pengairan Bojonegoro, Edy Susanto, saat ini persediaan air di Waduk Pacal dinyatakan angka merah. Pintu air tidak boleh dibuka karena cadangan air yang tersisa untuk perawatan tembok waduk. “Kalau dibuka dan airnya habis, maka tembok keliling waduk akan rusak,” ujar Edy Susanto.
Hal senada juga melanda sejumlah waduk di tempat lain. Waduk Blibis di Dukuh Glagah, Desa/Kecamatan Purwosari misalnya juga telah kehabisan air. Tanah di dasar waduk merekah dan ditanami jagung. Selain itu, Waduk Sonorejo di Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan juga airnya telah menyusut drastis.
Saat ini, Pemkab Bojonegoro juga tengah membangun Waduk Gongseng yang diperkirakan bisa menampung air sebanyak 22 juta meter kubik. Waduk Gongseng di Kecamatan Temayang, akan difungsikan sebagai pengganti dan Waduk Pacal yang kini telah mulai dangkal. Diperkirakan waduk baru ini bisa mengaliri sekitar 12 ribu hektare areal persawahan.
Menurut Bupati Bojonegoro Suyoto, daerah Bojonegoro ingin menjadi lumbung pangan dan energi nasional. Jika proyek 1000 embung dan Waduk Gongseng bisa selesai maka berdampak pada produksi beras. Untuk tahun 2015 ini, targetnya mencapai 1 juta ton dan akan terus meningkat jika proyek kantong air selesai.”Kita terus berupaya itu,” tegasnya. [rul]































.md.jpg)






