Kenduri Langit Tobo Manaqib Sastra Ronggeng Dukuh Paruk
Cinta Platonik Srintil
Minggu, 27 September 2015 18:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Purwosari - Bersamaan dengan even besar Frankfurt Book Fair di Jerman, salah satu buku yang dibawa dalam even tersebut adalah Ronggeng Dukuh Paruk. Karena itu komunitas penggerak baca dan karya Langit Tobo sengaja mengadakan kegiatan Kenduri Langit Tobo jilid 7, Manaqib (bedah buku) Ronggeng Dukuh Paruk, di D Philosof Coffee, Dusun Sambong, Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari, Sabtu (27/09).
Acara ini dihadiri oleh beberapa pemuda sekitar Purwosari dan juga dari komunitas Lesung dan dari beberapa pemuda dari luar Purwosari seperti Desa Kedaton Kecamatan Kapas dan Padangan.
Pembukaan acara diawali dengan penampilan tari reog oleh Muhammad Rizki pemuda Dusun Sombong, Purwosari. Baru masuk ke acara inti yaitu bedah buku Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari oleh Muhamad Tohir. Bagi Tohir Novel karya Ahmad Tohari adalah novel yang menyangkut seputar spritualitas.
"Tidak banyak yang tahu bahwa Ahmad Tohari adalah seorang kiai dan mengasuh pondok pesantren. Bila kita jeli, kita akan menemukan kuatnya persoalan spritualitas dalam karya karyanya, " ujar Tohir berapi api.
Tohir mengungkapkan, Ronggeng Dukuh Paruk memperlihatkan cinta platonik antara Rasus dan Srintil. Bagaimana sebuah cinta yang tidak bisa saling memiliki. Cerita ini berlatar belakang di sekitar pergolakan politik di Indonesia tahun 1960-an.
Tohir mengungkapkan, kisah dalam Ronggeng Dukuh Paruk ini menyuguhkan hubungan yang begitu erat seorang Srintil dengan alamnya, Dusun Paruk. Ia dipilih oleh alam, leluhurnya untuk menjadi seorang ronggeng. Ia kemudian, menjadi seorang ronggeng yang dimiliki oleh masyarakat umum. Ia bukan lagi seorang Srintil yang suka menari dan menyukai Rasus. Hubungannya dengan Rasus juga tidak ada kepastian.
Bridget Ginty, relawan pendidikan asal Amerika Serikat yang juga anggota komunitas Langit Tobo, juga mengaku sudah membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk itu dalam versi Inggris berjudul The Dancer. Ia juga memberikan pendapatnya.
"Dalam Novel yang pertama ini, saya menemukan Srintil sebagai objek sebagai barang. Tidak dipaparkan secara eksplisit perspektif seorang Srintil. Dan di novel ini saya melihat pertarungan antara manusia dan alam. Alamlah yang selalu menang, " ujarnya terbata bata karena belum bisa lancar berbahasa Indonesia.
Sementara itu menurut Shodiq, pemuda Desa Begadon, Kecamatan Gayam, yang juga ikut dalam manaqib sastra, mengatakan, buku novel Ronggeng Dukuh Paruk ini sangat detail menggambarkan hubungan manusia dengan alam di pedesaan. Ahmad Tohari sangat piawai dan jeli dalam mendeskripsikan kondisi alam, kondisi psikologis, dan juga latar sosial politik yang terjadi tahun 1960 an itu.
Buku Ronggeng Dukuh Paruk, kata Tohir, merupakan salah satu yang patut dijadikan referensi bacaan bermutu untuk melihat sejarah politik Indonesia tahun 1960-an. Ahmad Tohari yang dikenal sebagai seorang kiai mampu menggambarkan kehidupan seorang ronggeng dan menggambarkan kondisi psikologis dan sosial politik yang terjadi pada saat itu.
“Kabarnya Ahmad Tohari akan menulis kelanjutan buku Ronggeng Dukuh Paruk ini sehingga jadi buku tetralogi. Kita tunggu saja nanti,” tututpnya.
Acara Kenduri Langit Tobo ini diadakan di D Philosof Coffe, sebuah kafe yang dibangun oleh Novi Tustrikara, anggota Langit Tobo. Kafe ini sengaja didirikan untuk mengapresiasi karya dan kreatifitas para pemuda. Selain mengadakan bedah buku, D Philosof Coffe juga ke depan menghadirkan acara kebudayaan dan kesenian, music akustik, pemutaran film, dan sekaligus menyediakan perpustakaan yang bisa dibaca oleh siapa saja yang nongkrong di warung ini. (ver/kik)

































.md.jpg)






