430 Perangkat Desa Ikuti Pelatihan Penanggulangan Bencana
Selasa, 29 Agustus 2017 13:00 WIBOleh Imam Nurcahyo *)
*Oleh Imam Nurcahyo
Bojonegoro Kota - Sebanyak 430 perangkat desa yang merupakan perwakilan dari seluruh desa yang ada di Kabupaten Bojonegoro, pada Selasa (29/08/2017) pagi tadi, ikuti Pelatihan Penanggulangan Bencana yang digelar oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, di pendapa Malwopati Kantor Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Acara tersebut dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bojonegoro, Drs Soehadi Moeljono, dengan menghadirkan beberapa narasumber antara lain dari BPBD Kabupaten Bojonegoro, Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bojonegoro, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Bononegoro serta dari PMI Cabang Bojonegoro.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bojonegoro, Andik Sudjarwo dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan agar penanganan bencana menjadi cepat dan tepat serta dalam rangka membangun budaya kebersamaan dan gotong royong disemua lapisan dalam penanggulangan bencana.
“Kegiatan ini sebagai media penyebarluasan fungsi penanggulangan bencana sehingga lebih terstruktur dan tersistematis serta terarah.” terang Andik.
Sementara itu Sekretaris Daerah Kabupaten Bojonegoro, Drs Soehadi Moeljono saat membuka acara ini mengharapkan kepada seluruh peserta agar mengikuti pelatihan ini dengan sebaik-baiknya, karena ini menjadi kunci penanganan kondisi darurat yang terjadi diwilayahnya masing-masing.
“Utamanya adalah untuk membantu dan menlong masyarakat di desa masing-masing.” ucap Sekda.
Secara khusus Sekda menegaskan bahwa semua harus dimulai dari hati. “Jika hati hadir maka ilmu yang disampaikan ini akan mudah dicerna, kemudian akan mudah diaplikasikan nanti dilapangan.” tegas Sekda.
Lebih lanjut Sekda menjelaskan, bahwa tipologi wilayah Kabupaten Bojonegoro terbagi dalam dua, yakni Bojonegoro utara yang dilalui sungai Bengawan Solo dan Bojonegoro selatan yang merupakan daerah pegunungan dan berhutan. Oleh karena karakteristik ini maka potensi bencana di wilayah Utara adalah banjir akibat luapan sungai Bengawan Solo dan banjir genangan. Sedangkan untuk wilayah selatan potensi bencana adalah banjir bandang, longsor, kekeringan yang rentan terhadap bencana kebakaran, angin puting beliung dan lain lain.
“Sehingga bencana di wilayah selatan itu kerugian lebih besar, bisa mencapai milyaran rupiah dan untuk dampak bencana di wilayah utara adalah kerugian banjir, yang berakibat pada puso atau gagal panen.” terang Sekda.
Menurut dalam sambutannya, bahwa korban akibat kejadian tenggelam justru banyak terjadi di saat musim kemarau baik itu terjadi diwilayah Bantaran Sungai Bengawan Solo atau embung.
“Kejadian ini diakibatkan adanya anak-anak yang bermain di dua titik tersebut dan kebanyakan mereka tidak bisa berenang.” jelas Sekda.
Jika kita mau mencermati, lanjutnya, kondisi alam di Bojonegoro sekarang betapa sangat jauh berbeda di bandingkan beberapa tahun yang lalu. Hutan dari tahun ke tahun makin habis. Kerusakan hutan ini diakibatkan oleh banyak faktor antara lain alam, ulah manusia ataukah manajamen pengelolaan hutan yang kurang.
“Untuk menjaga hutan ini membutuhkan sinergi banyak pihak tak serta merta menjadi tanggungjawab pihak perhutani. Namun harus disadari dalam pengelolaan hutan ini mekanisme tak semudah yang dibayangkan.” lanjutnya.
Diakhir sambutannya Sekda mencontohkan desa-desa yang rawan bencana seperti Desa Kedungsumber Kecamatan Temayang yang setiap musim hujan, rawan dilanda terjangan banjir bandang. “Bahkan jika intensitas hujan cukup tinggi, dalam satu minggu banjir bisa terjadi lebih dari sekali.” terangnya.
Namun dalam upaya penanggulangan bencana, kita harus memahami bahwa ada aturan di pemerintah yang tak semudah harapan kita, jadi kita mesti bersabar dan tak henti berupaya.
“Untuk menjaga ketahanan desa dari sisi bencana, agar dalam perencanaan APBDes, memasukkan upaya penanggulangan bencana dalam APBDes-nya.” pungkas Sekda. (inc/imm)












































.md.jpg)






