Kelas Jurnalistik BBC (ke-3)
Soal Bagaimana Orang Memilih Informasi
Sabtu, 10 Oktober 2015 17:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota - Sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia dan mutu jurnalis BBC, sebutan BeritaBojonegoro.com, selain yang rutin sekali minggunya, tiap bulannya mengadakan kelas jurnalistik. Beberapa narasumber, secara bergantian, dihadirkan untuk berbagi pengalaman. Acara bertempat di kantor BBC Jalan Panglima Sudirman Nomor 44, Kota Bojonegoro.
Kali ini, yang didatangkan adalah seorang relawan pendidikan dari Amerika Serikat, Bridget Ginty. Dia berbincang tentang bagaimana masyarakat Amerika membaca dan memilih informasi di media. Sebagai pembanding, hadir Aguk Sudarmodjo, seorang jurnalis senior di Bojonegoro yang bekerja di media Antara.
Dalam kesempatan tersebut pimpinan umum BBC, yaitu Imam Nur Cahyo menyampaikan tujuan dari kegiatan ini. "Karena kami menyadari bahwa untuk meningkatkan kapasitas wartawan, kami mendatangkan wartawan senior. Namun untuk kali ini sedikit berbeda, karena selain ada wartawan senior, juga ada Bridget yang mana akan membahas mengenai perkembangan pers di Amerika," kata Imam.
Dalam presentasinya, Bridget bicara tentang kepercayaan masyarakat terhadap media. "Saya yang lahir sebagai generasi milenia (generasi yang lahir 1980-2005an), punya kecenderungan terhadap kekinian. Saya banyak dapat informasi melalui facebook, tetapi facebook tidak bisa sepebuhnya dipercaya. Facebook belum cukup, harus dilanjutkan ke media yang bisa dipercaya lagi," katanya. Merupakan tantangan bagi media untuk membuat dirinya dipercaya pembaca.
Selain itu, masyarakat di Amerika cenderung bisa dewasa dalam menyikapi informasi. Informasi tidak disikapi secara buta. Butuh pembanding. Misal berita di media yang ada kecenderungan afiliasi ke partai politik tertentu, pembaca bisa cerdas membuat penilaian. "Saya termasuk orang biasa yang tidak buta soal politik. Karena saya belajar politik (di universitas). Ada media-media di Amerika yang memang punya arah ke partai politik," katanya. Meski demikian, tidak ada intervensi dari partai politik atau politikus tertentu terhadap media. Media lebih bebas di sana.
Bridget juga bercerita bagaimana media cetak di Amerika mulai ditinggalkan. "Orang mulai beralih ke media-media online," terang perempuan cantik bertubuh jangkung itu.
Aguk Sudarmodjo membenarkan itu. Dia mengutip kata-kata seorang jurnalis asal Bojonegoro yang merintis media online nasional, bahwa pada masanya nanti, masyarakat akan meninggalkan media cetak. Jurnalis yang dimaksud oleh Aguk adalah Budiono Sudarsono. Budiono ini termasuk wartawan yang berjuang di tengah dunia jurnalis yang penuih tekanan di era orde Baru dulu. "Media miliknya termasuk salah satu media yang dibredel pada saat itu," kata Aguk
Kegiatan ini dihadiri juga beberapa kawan media lain, selain dari BBC sendiri, juga nampak hadir beberapa mahasiswa dan komunitas.
Diskusi berjalan gayeng, meski kadang terjadi kesulitan soal bahasa. Bridget menyampaikan cerita menariknya dengan bahasa Indonesia ala Amerikanya yang kadang memerlukan penerjemah. Dan beberapa peserta kadang bicara dengan bahasa Inggris yang pas-pasan.(ver/moha)

































.md.jpg)






