Tambah Kecakapan Analisa Lewat Diskusi Film
Sabtu, 10 Oktober 2015 20:00 WIBOleh Linda Estiyanti
Oleh Linda Estiyanti
Kota - Sekolah Gerakan (Seger) menghelat nonton film bareng malam hari ini, Sabtu (10/10), bertempat di Warung panggung, Jl. Pondok Pinang, Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota.
Sejak pukul 19.00 WIB, Warung Panggung, dipenuhi oleh sekumpulan pengunjung yang dengan khidmat terpaku menatap layar datar berukuran 2 x 2 meter. Mereka sedang menyaksikan nonton bareng (nobar) film pendidikan.
Sebanyak dua puluh pengunjung warung panggung, beberapa dari masyarakat dan kebanyakan mahasiswa, asal IKIP PGRI Bojonegoro, mengikuti nonton bareng film pendidikan yang diselenggarakan oleh Komunitas Budaya Seger Bojonegoro.
Seger sendiri merupakan salah satu wadah diskusi dan kajian budaya Jawa di kalangan komunitas budaya Bojonegoro, yang terbentuk beberapa waktu lalu oleh sekumpulan pemuda, yang kebanyakan adalah mahasiswa.
Dalam suasana malam yang hening, ditiadakannya pencahayaan dalam ruangan yang mulanya tampak klasik dengan tembok berbahan bata merah menyala tersebut, menjadikan suasana semakin dingin. Berbekal kopi dalam cangkir mereka tampak menikmati apa yang dimunculkan dalam layar tersebut.
Acara nonton bareng film pendidikan ini, dimulai dengan pemutaran film dokumenter berjudul Jangan Tutup Sekolah Kami karya Tedika Manda Puri asal Lampung. Film dokumenter tersebut merupakan sepenggal cerita asal Desa Morodewe, Kabupaten Mesuji, tentang kenyataan bagaimana pendidikan di Indonesia terbilang sangat mahal untuk anak negeri.
Kemudian pengunjung semakin hanyut saat dilanjutkan dengan pemutaran film pendidikan berjudul The Song of Sparrows karya sutradara Majid Majidi, sutradara kondang asal Iran yang melambung namanya lewat film Children of Heaven.
Dhadang SB, Penggerak komunitas budaya Seger (Sekolah Gerakan) mengungkapkan bahwa kegiatan nobar ini merupakan perdana Seger Go to Society. Rencananya film ini akan diadakan setiap Sabtu malam di warung panggung mengisi waktu santai para awak komunitas.
"Tidak hanya sekedar menonton. Akan tetapi tujuannya mengembangkan ruang analisis sosial bagi kawan komunitas lewat media film," ujar Dhadang, penggerak Seger, alumnus Seni rupa Taman Siswa Yogyakarta.
Penerima penghargaan kompetisi seni rupa Indonesia ASEAN Art Awards 2003 tersebut menilai bahwa saat ini minat awak komunitas dalam menganalisa suatu permasalahan sosial masih rendah, sehingga perlu adanya inovasi dalam kegiatan diskusi komunitasnya. (lyn/moha)
Foto nonton film untuk asah analisa

































.md.jpg)






