Kelas Jurnalistik BBC Jilid 3
Di Amerika, Jurnalistik Komedi Lebih Diminati
Sabtu, 10 Oktober 2015 22:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Kota - Bulan Oktober kali ini, kelas jurnalistik BBC memasuki jilid ketiga. Berbagai topik menarik disajikan dan diulas oleh narasumber yang kompeten. Seperti halnya pada Sabtu (10/10) siang, awak redaksi BBC menyorot bisnis media di Indonesia dan Amerika. Termasuk budaya mengikuti pemberitaan di media, serta pengaruh politik terhadap keberadaan pers, selaku pengarah opini publik.
Sebagai penyaji topik tersebut, BBC menghadirkan salah satu wartawan senior yang sudah menggeluti dunia jurnalistik sejak tahun 1986, Aguk Sudarmodjo. Hadir pula relawan asal New Hampshire, Amerika Serikat, yang saat ini juga mengajar di SMK Negeri Purwosari, Bridget Ginty. Diharapkan acara ini dapat meningkatkan cakrawala berpikir para jurnalis BBC.
"Pada kesempatan kali ini kita juga mengundang jurnalis yang bertugas di Bojonegoro," kata Pimpinan Umum BeritaBojonegoro.com (BBC), Imam Nur Cahyo.
Diskusi dibuka dengan pemaparan Bridget mengenai dunia pers di Amerika. Menurutnya ada beberapa perusahaan besar yang mengusai media di sana. Yaitu Disney, Miramax, Fox, News Corp dan CNN. Bahkan, lanjut dia, saat ini sudah terjadi monopoli media. Perusahaan-perusahaan raksasa makin merajai dengan mengakuisisi media-media kecil.
Selain itu dua partai politik juga turut menyetir berjalannya isu atau konten berita yang disiarkan. Semua itu tak lepas dari kepentingan partai yang bertarung dalam perebutan kekuasaan. Hal itu membuat masyarakat dari Negeri Paman Sam juga tidak mempercayai begitu saja tiap informasi yang diberitakan.
"Saat ini yang paling digemari masyarakat sana adalah berita yang dikemas dengan teknik-teknik comedy," kata Bridget, sapaan akrabnya menjelaskan.
Gadis berusia 26 tahun itu menyebut tayangan The Daily Show, yang dipandu oleh Jon Stewart. Program televisi ini, lanjut dia, sangat digemari oleh masyarakat Amerika. Dimana ada kolaborasi antara program jurnalistik dengan hiburan. Sehingga penonton tidak hanya mendapat informasi, tapi juga mendapatkan hiburan.
Sementara narasumber kedua, Aguk Sudarmodjo, menganggap masa depan media atau pers saat ini ada di media siber. Adapun media cetak seperti koran atau tabloid, satu saat pasti ditinggalkan pembaca. Penyebabnya salah satunya adalah kemajuan teknologi dan penggunaan smartphone yang merambah semua kalangan.
Pria yang juga piawai di bidang seni dan sastra itu mengimbau, jika ingin menjadi jurnalis handal, maka lakukanlah dengan totalitas. Karena profesi jurnalis sendiri bukan hanya sekedar mengisi waktu ketika menganggur. Dia menambahkan bahwa tidak sedikit orang yang sukses berangkat dari dunia jurnalis.
"Jadi jurnalis atau wartawan juga tidak boleh sombong. Saya sendiri orang yang tidak percaya jika wartawan itu dilindungi undang-undang. Yang melindungi kita itu ya diri kita sendiri," pungkas Pak Aguk, panggilan akrab jurnalis Kantor Berita Antara itu. (rul/moha)

































.md.jpg)






