SMPN 2 Bojonegoro, akan Pentas di Negeri Sakura
Minggu, 09 Agustus 2015 06:00 WIBOleh Nasruli Chusna
SMPN 2 Bojonegoro, Pentas di Negeri Sakura
Oleh: Nasruli Chusna
Bojonegoro - Empat siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Bojonegoro, bulan April depan, berkesempatan mewakili Indonesia ke Negeri Sakura, Jepang. Mereka terpilih dalam ajang The 7th Japan Experience Program for Overseas Children atau pertukaran pelajar yang dilaksanakan oleh Hakuho Foundation, yang bekerja sama dengan Japan Foundation. Program ini akan dilaksanakan selama dua minggu yakni mulai tanggal 14 hingga 27 April 2015.
Keempat siswa tersebut adalah Queen Nindya Natasha, Yunita Dewi Nurkumala, Yuke Triviana Hasim dan Thomas Felix. Tak hanya mereka, salah satu guru juga berkesempatan mendampingi mereka ke Jepang.
“Di sana nanti kita juga akan menampilkan budaya dan kesenian Indonesia. Saat ini masih digodok oleh tim di sekolah ini, apa saja yang akan ditampilkan disana. Selain itu kami akan diterima oleh keluarga asuh dan melakukan kunjungan ke berbagai tempat. Diantaranya ke sekolah setingkat SMP di sana dan tempat-tempat bersejarah lain,” ujar guru bahasa Jepang, SMPN 2 Bojonegoro, Eka Shenzei, yang nantinya akan ditugaskan mendampingi anak didiknya ke Jepang.
Perempuan berjilbab, yang sempat hidup di Jepang itu menjelaskan, saat ini sedang fokus membimbing para siswa terpilih dari segi penguatan bahasa. Menurutnya ada banyak pelajaran yang dapat dipelajari di sana. Salah satunya adalah budaya antri dan tertib dalam melaksanakan pekerjaan.
Terpilihnya keempat siswa tersebut bermula dari sekolah yang mengirim proposal, dalam bahasa Jepang, ke Japan Foundation awal tahun lalu. Japan Foundatioan merupakan lembaga khusus yang menangani pertukaran pelajar ke Jepang. Sempat gagal pada tahun sebelumnya, akhirnya proposal tahun ini diterima pada pertengahan Ramadan lalu.
Sekolah ini mengalahkan ratusan sekolah lain di Indonesia. Karena tiap negara hanya dapat mengirimkan satu perwakilan saja. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi pun cukup berat. Diantaranya adalah sekolah yang mengajarkan bahasa Jepang dan bahasa Arab. Termasuk prestasi-prestasi yang diraih oleh sekolah tersebut.
“Kami memang menerapkan pengajaran bahasa Arab di sekolah ini seak tahun 2010. Ini merupakan pengembangan dari kurikulum yang ada. Karena kami beranggapan masyarakat itu selalu berkembang. Jadi kita harus mengikuti tuntutan yang berkembang pula,” tutur Kepala Sekolah SMPN 2 Bojonegoro, Ali Fatikin.
Pada kesempatan itu, sekolah yang beralamat di Jl. Dr Wahidin tersebut akan berkumpul dengan siswa dari 10 negara lain, yaitu Australia, India, Inggris, Thailand, Srilanka, Mongolia, Malaysia, Brazil, Vietnam dan Rusia. (rul)

































.md.jpg)






