Ratusan Warga Dari Dua Desa di Blora, Diperiksa Sampel Darah
Senin, 23 Juli 2018 14:00 WIBOleh Priyo Spd
Oleh Priyo Spd
Blora - Ratusan warga Desa Tawangrejo, Kecamatan Kunduran dan Desa Wantilgung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, diperiksa sampel darahnya oleh Dinas Kesehatan Blora. Sampel darah itu nantinya akan diperiksa di laboratorium di Yogyakarta untuk memastikan apakah warga tersebut sudah terbebas dari penyakit kaki gajah (filariasis).
Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Permukiman (P3PLP) Dinas Kesehatan Blora, Edi Sucipto melalui Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Sutik mengatakan ada 300 sampel darah yang diperiksakan ke laboratorium.
“Lantaran jumlah warga yang diambil sampel darahnya cukup banyak, pengambilan sampel darah itu pun berlangsung beberapa hari. Bahkan pengambilan dilakukan pada malam hari,” ujar Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Permukiman (P3PLP) Dinas Kesehatan Blora, Edi Sucipto melalui Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Sutik, Senin( 23/07/2018)
Menurutnya di dua desa tersebut pernah ada beberapa warganya yang dinyatakan positif menderita penyakit kaki gajah di tahun 2005. Kedua desa itu sempat dinyatakan endemis filariasis. Menyikapi hal itu, kata Sutik, Dinas Kesehatan memberikan obat filariasi kepada para warga. Obat tersebut, harus dikonsumsi rutin selama beberapa tahun.
“Melalui pemeriksaan sampel darah itu, kami ingin mengecek kembali apakah masih ada penderita filariasis di kedua desa tersebut. Ataukah mereka sudah sembuh setelah secara rutin mengonsumsi obat filariasi,’’ tandasnya.
Sutik menyakini, jika warga benar-benar melaksanakan petunjuk pengonsumsian dengan baik, besar kemungkinan warga itu akan sembuh. Sutik mengungkapkan, pemeriksaan sampel darah juga pernah dilakukan di beberapa desa yang endemis filariasis di Blora. Warga di desa itupun sebelumnya rutin mengonsumsi obat filariasis.
“Hasilnya ternyata sudah negatif filariasis. Berdasarkan pengalaman itu, kami cukup optimistis warga di Wantilgung dan Tawangrejo juga akan negatif filariasis,’’ katanya.
Sekadar diketahui, penyebab penyakit filariasis adalah infeksi cacing Filaridae. Setelah menginfeksi tubuh, cacing jenis itu dapat ditemukan di dalam peredaran darah, limfe, otot, jaringan ikat, atau rongga serosa pada tulang belakang. Filariasis ditularkan melalui gigitan nyamuk Culex quinquefasciatus di daerah perkotaan; dan nyamuk Anopheles/Aedes di daerah pedesaan. Nyamuk itu dapat bertahan dalam tubuh manusia hingga lima tahun.
Jika pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil positif, maka pasien akan ditangani dengan pengobatan berupa terapi Dietilcarbamazine (DEC) -ditujukan untuk membunuh mikrofilaria. Pengobatan biasanya diulang 1-6 bulan, atau selama 2 hari per bulan. Namun, perlu diiingat bahwa matinya cacing tidak serta-merta membuat pembengkakan mereda. Pembengkakan tetap bisa terjadi karena tubuh cacing yang mati akan terkumpul di jaringan pembuluh limfe. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan pencegahan supaya jangan sampai cacing dan anak cacing yang sudah ada di tubuh penderita terus berkembang. Untuk menghentikan mikro filaria secara luas, Kementerian Kesehatan mengadakan program Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPM). Pengobatan dengan DEC dan albendazole diminum satu kali dalam satu tahun selama 5 tahun berturut-turut.(teg/kik)











































.md.jpg)






