Kasus HIV/Aids di Bojonegoro Tinggi (bagian 1)
Laju Jumlah Penderita Harus Ditekan
Minggu, 25 Oktober 2015 07:00 WIBOleh Mulyanto
Oleh Mulyanto
Kota - Angka penderita HIV/ Aids di Bojonegoro memang cukup tinggi dan mengkhawatirkan, sehingga memerlukan penanganan serius. Berdasar data Dinas Kesehatan Bojonegoro sebagaimana yang kemarin diberitakan (24/10), hingga saat ini, sejumlah 677 warga Bojonegoro adalah penderita HIV/ AIDS, terhitung sejak tahun 2002. Jumlah penderita tahun ini, tergolong paling tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro, Dr Wheny Dyah Prajanti, mengatakan Dinkes Kabupaten Bojonegoro sudah melakukan berbagai cara untuk menekan laju peningkatan virus yang belum ditemukan obatnya ini. Termasuk memberikan wawasan kepada masyarakat Bojonegoro agar tahu apa itu HIV/AIDS serta bahayanya agar sebisa mungkin menghindari kegiatan-kegiatan yang bisa menyebabkan masyarakat tertular.
Sampai saat ini, upaya yang sudah dilakukan Dinkes Bojonegoro adalah mendampingi dan memberikan konseling kepada penderita HIV/AIDS, baik di rumah dan di rumah sakit, pelatihan VCT bagi analis untuk menunjang diagnosa HIV/Aids di RSUD Sosodoro Jatikusumo Bojonegoro dan Puskesmas Kalitidu.
VCT yang dimaksud adalah proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidental dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV. Dalam tahapan VCT ini, konseling dilakukan dua kali yaitu sebelum dan sesudah tes HIV. Pada tahap pra konseling dilakukan pemberian informasi tentang HIV dan AIDS, cara penularan, cara pencegahan dan periode jendela. Kemudian konselor melakukan penilaian klinis.
Dr Whenymengatakan, upaya tersebut dilakukan untuk pencegahan. "Ini agar menekan pertambahan penderita HIV/ AIDS. Sebab setiap tahun di Bojonegoro ini selalu mengalami peningkatan. Tahun ini paling banyak lho, sampai 145 penderita," kata dia kepada BBC, sebutan BeritaBojonegoro, dua hari yang lalu, Jum'at (23/10).
"Melihat yang sudah-sudah, dikhawatirkan setiap tahun akan mengalami kenaikan angka penderita. Laju itu harus ditekan" tambah Dr Wheny cemas. Karena itu, kata dokter cantik berkaca mata mata itu, Dinas kesehatan berupaya melakukan aksi pencegahan dan penekanan.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga telah mengadakan pelatihan untuk modin dalam perawatan jenazah penderita HIV/ AIDS, antiretrovital treatment (ARV) untuk pengobatan penderita HIV/Aids, dan penyuluhan HIV/AIDS lewat PKK, tokoh agama dan lembaga sekolah. (mol/moha)
Ilsutrasi tribunnews.com

































.md.jpg)






