Forum Komunikasi Mahasiswa Bangilan
Gugah Semangat Pemuda dengan Bedah Novel Arus Balik
Sabtu, 31 Oktober 2015 16:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Bangilan - Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda Forum Komunikasi Mahasiswa Bangilan (FKMB) mengadakan acara cangkrukan dan bedah buku di Gedung Serbaguna, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, Sabtu (31/10) siang. Buku yang dibahas adalah novel karya Pramudya Ananta Toer berjudul Arus Balik.
Acara yang dihadiri 30 orang terdiri siswa SMP dan MA, juga beberapa mahasiswa dari IKIP PGRI Bojonegoro, STAI Al Hikmah, dan Universitas Ronggolawe. Acara dimulai pukul 11.00 WIB dan diakhiri pukul 13.30 WIB. Tampil sebagai pembedah buku adalah Redaktur Pelaksana beritabojonegoro.com Muhammad Tohir, Dr Sariban dari Malang, dan Nanang Fahrudin.
"Pemilihan bedah buku arus balik karya Pramudya ini karena menyangkut juga sejarah Tuban. Selain itu kisah tokoh dari novel Pram adalah orang yang pekerja keras. Diharapkan dari kegiatan ini pelajar di Kecamatan Bangilan mampu menjadi pemimpin yang baik," ujar Ketua Panitia Bedah Buku, Ovim, saat membuka acara.
Dalam paparannya, Dr Sariban menyatakan, novel Arus Balik ini memberi pesan bahwa masyarakat harus bekerja yang sesungguhnya. "Kita harus melakukan apa yang kita bisa. Orang-orang pribumi yang tidak berhenti berjuang. Terus menjadi berkarya," ujarnya penuh semangat.
Sementara itu pembedah lain, Nanang Fahrudin memaparkan, bagaimana akhlak harus dibentuk sejak dini. "Mayoritas tokohnya seorang pemuda termasuk Wironggaleng, bahkan Minke itu biografi Tirta Adi Suryo. Pembacaan politik, Ken Arok menang. Yang muda yang kreatif," imbuhnya.
Sedangkan Muhammad Tohir dalam paparannya mengutip kata-kata bijak seorang Pramudya Ananta Toer. "Menulislah, agar engkau abadi. Orang-orang besar dikenal karena tulisannya. Bahkan Pram harus menulis di bungkus rokok. Pram menulis orang-orang yang hampir dilupakan sejarah," terang pria berkaca-mata itu.
Ketika sesi tanya jawab dibuka, ada satu pertanyaan yang mengungkapkan bahwa beberapa slot kisah di novel Arus Balik tidak sesuai fakta sejarah yang ada. Menanggapi pertanyaan itu, Dr Sariban menjelaskan, dalam perspektif sastra, ada yang faktual bisa dibelokkan menjadi imajinasi.
Dalam realitas di novel tapi di faktual ditutupi. Dalam politik banyak tipu muslihat yang terjadi. Tidak pernah ada catatan perang dengan penguasa. Kerja yang sesungguhnya adalah pekerjaan. Orang berjuang melawan, dan bertindak.
"Pram tidak suka rezim, kekuatan ingin membongkar sistem raja. Pemimpin yang mendengar langsung, ada tindakan nyata. Adegan simbolia fakta bisa diputar-balikan," pungkasnya. (ver/tap)

































.md.jpg)






