Tingginya Kasus HIV/AIDS di Bojonegoro (Bagian 3)
Miris, Jumlah ODHA Paling Banyak dari Kalangan Buruh Kasar
Minggu, 08 November 2015 19:00 WIBOleh Mulyanto
Oleh Mulyanto
Kota - Mengejutkan, penderita HIV/AIDS atau biasa disebut ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) di Kabupaten Bojonegoro paling banyak dari kalangan buruh kasar. Pada Januari-September 2015 Dinas Kesehatan setempat mencatat 51 orang dari total 145 jumlah ODHA berlatar belakang pekerjaan buruh kasar.
Meskipun masih perlu dijelaskan klasifikasi buruh kasar itu seperti apa, data itu patut menjadi perhatian. Secara umum, kalangan buruh kasar itu bukanlah kaum yang hidup berkecukupan. Dengan tingkat pendapatan yang mungkin hanya sebesar UMR (upah minimum regional) atau bahkan dibawahnya, mereka malah jadi sasaran empuk penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV), penyebab penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).
Menurut perhitungan awam, mestinya yang rentan terkena HIV/AIDS itu kalangan berkecukupan, misalnya wiraswasta dan karyawan. Sebab, dengan kondisi finansial yang berlebih mendukung mereka melakukan pola hidup menyimpang. Dari kalangan wiraswasta tercatat 22 orang, dan karyawan 11 orang.
Tapi di Bojonegoro ini tidak demikian. Bahkan selain buruh kasar, tercatat juga jumlah ODHA dari ibu rumah tangga sebanyak 13 orang, petani dan nelayan 14 orang, sopir 2 orang dan Pekerja Seks Komersial (PSK) hanya 1 orang. Mereka ini mungkin juga tingkat ekonominya masih setara buruh kasar.
Kondisi demikian itu menimbulkan tanda tanya, ada perkembangan apa di Bojonegoro? Sebab, menurut Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bojonegoro dr Whenny Dyah Prajanti, beberapa waktu lalu, jika dilihat dari faktor penularannya, akibat hubungan seksual yang tidak aman 130 kasus, karena kelahiran 6 kasus, dan penyebab lain yang tidak diketahui sebanyak 9 kasus.
Kalau melihat faktor penularannya, apakah kalangan buruh kasar itu tertular HIV/AIDS karena hubungan seksual tidak aman? Kalau ya, mereka dapat penularan darimana? Apakah virus HIV itu tertular dari luar atau dalam wilayah Bojonegoro? Hal ini yang mungkin digali lebih dalam.
Ditambahkan oleh dr Whenny, sesuai data Dinas Kesehatan jumlah ODHA didominasi kalangan usia produktif pada rentang usia 20-49 tahun. Mereka yang terjangkit virus mematikan itu mempunyai mobilitas tinggi. Sehingga, risiko kasus itu menular pada yang lain juga akan tinggi.
Rinciannya, jumlah ODHA pada usia 20-24 tahun sebanyak 11 orang, usia 25-29 tahun sebanyak 19 orang, usia 30-34 tahun sebanyak 27 orang, dan usia 35-39 tahun sebanyak 16 orang, usia 40-44 tahun sebanyak 18 orang, dan usia 45-49 tahun sebanyak 23 orang. Kalau ditotal jumlah ODHA di Bojonegoro pada Januari-September 2015 sebanyak 145 orang.
Dari total jumlah ODHA itu, jika dilihat dari jenis kelaminnya, banyak didominasi kaum laki-laki, yakni sebanyak 84 orang. Sedangkan kaum perempuannya sebanyak 61 orang.
“Dinkes Bojonegoro sudah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi kasus HIV/AIDS. Di antaranya pelatihan bagi relawan peduli HIV/AIDS dan juga melatih modin untuk merawat jenazah penderita HIV/AIDS,” tandasnya. (mol/tap)
*) Ilustrasi dari twicsy.com

































.md.jpg)






