SDM Rendah Picu Naiknya Pernikahan Dini
Senin, 09 November 2015 20:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota - Rupanya, masuknya internet sampai pelosok desa, belum cukup mampu mengubah pola pikir sebagian masyarakat Bojonegoro. Buktinya, jumlah pernikahan dini hingga pertengahan 2015 masih relatif tinggi.
Pada rentang Januari-Juni 2015, tercatat 87 pernikahan dini. Jumlah itu dua kali lipat dari jumlah pernikahan dini tahun lalu. Bahkan, jumlah tahun ini diperkirakan bisa meningkat.
Hal itu berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro. Dalam data itu disebutkan, tahun 2014 telah terjadi 43 pernikahan dini.
Kepala Kemenag Bojonegoro Drs Munir MHum, mengatakan, penyebab dari pernikahan usia dini ini salah satunya karena kualitas sumber daya manusianya rendah.
"Daerah yang paling banyak terjadi pernikahan usia dini adalah daerah pelosok. Serta alasan terjadinya pernikahan usia dini bisa karena gengsi dan SDM yang kurang," ujarnya kepada beritabojonegoro.com, Senin (09/11).
Pernikahan dini adalah sebuah pernikahan yang salah satu atau kedua pasangan berusia di bawah umur, atau sedang mengikuti pendidikan di Sekolah Menengah Atas. Sebuah pernikahan disebut pernikahan dini, jika kedua atau salah satu pasangan masih berusia di bawah 18 tahun, atau masih remaja.
Di beberapa tingkat budaya, pernikahan dini bukanlah masalah, karena sudah menjadi tradisi atau kebiasaan. Namun, dalam konsep kekinian, pernikahan dini dianggap bakal membawa masalah psikologis besar di kemudian hari. Sebab, keadaan psikis dan psikologis yang belum matang dari kedua pasangan itu.
Kepala Badan Pemberdayaan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Anik Yuliarsih, mengatakan, ada resiko tersendiri untuk anak-anak yang belum cukup umur melakukan pernikahan. Tubuh dan organ reproduksi anak perempuan belum siap untuk dibuahi. "Selain itu, kondisi psikologis mereka juga masih belum stabil," terangnya. (ver/tap)
*) Iustrasi dari genbagus.blogspot.com

































.md.jpg)






