Murid Kelas 4 SD Muhammadiyah Antusias Ikuti Kelas Jurnalistik
Sabtu, 14 November 2015 13:00 WIBOleh Mulyanto
Oleh Mulyanto
Kota – SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro kembali mengadakan kelas jurnalistik hari ini, Sabtu (14/11). Kalau pada pertemuan sebelumnya kelas jurnalistik diikuti oleh murid kelas 5, kali ini diikuti oleh murid kelas 4.
SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro menghadirkan guru tamu yang sehari-hari berprofesi sebagai jurnalis yakni Muhammad Roqib, jurnalis MNC Koran SINDO. Ia juga menjadi pengurus Lembaga Pendidikan Jurnalistik Bojonegoro (LPJB) di bawah naungan Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro (YKIB).
Anak-anak tampak antusias mengikuti kelas jurnalistik kali ini. Mereka mengaku setiap hari sudah akrab dengan berita yang disampaikan oleh surat kabar, televisi, radio, dan juga media siber. Anak-anak ini juga mengaku sudah biasa memakai media sosial seperti facebook.
Anak-anak kelas empat ini juga mengaku suka menulis. Biasanya mereka menulis di buku harian. Ada pula yang suka menulis cerpen. Alya Galuh Kirana, misalnya, salah satu peserta kelas jurnalistik mengaku suka sekali menulis cerita pendek (cerpen). Tetapi, kata dia, kalau menulis berita memang belum pernah dan ia ingin belajar menulis berita.
“Saya mau menulis berita tentang penemuan teknologi baru atau berita tentang antariksa,” ucap siswi berjilbab itu.
Lain lagi yang diungkapkan oleh Rasista Nasya Zerlinda. Ia mengaku setiap hari suka menulis di buku harian. Ia terkadang menulis tentang apa yang ia rasakan, pengalamannya, dan juga kegiatan kesehariannya. “Saya suka menulis di buku harian,” ucap siswi yang sangat aktif bertanya itu.
Muhammad Roqib lebih banyak menyampaikan materi tentang menulis dengan bercerita dan memberi banyak contoh. Ia menuturkan, menulis berita itu seperti menulis karangan atau kisah tetapi berdasarkan fakta atau peristiwa yang memang benar-benar terjadi. Tetapi, kata dia, untuk menulis berita memang ada kaidahnya dan juga teknik menulisnya.
Ia menyebutkan misalnya, ketika mau menulis berita maka harus menentukan dulu sudut bahas (angle) atau tema yang akan diulas. Kemudian, menulis berita itu memakai teknik piramida terbalik yaitu maksudnya fakta yang dianggap penting ditaruh di awal tulisan dan yang kurang penting ditulis di tengah dan akhir.
Roqib, sapaannya, menuturkan dalam menulis berita juga harus memenuhi unsur misalnya berimbang (cover both side), akurat dalam menyebutkan fakta, jujur dalam menulis berita, dan ditulis secara menarik, mengalir, dan komunikatif.
“Adik-adik harus jujur menulis itu, harus sesuai peristiwa atau fakta yang sesungguhnya,” ungkapnya.
Setelah menyampaikan teknik menulis berita itu, anak-anak diminta menulis berita pendek sekitar dua atau tiga paragraf. Anak-anak tampak antusias menulis berita. Mereka menulis tentang sekolahnya, peristiwa kebakaran trafo yang pernah terjadi di SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro, peristiwa kecelakaan, tentang kegiatan mereka saat di rumah, dan juga pengalaman mereka saat bermain dengan teman-temannya.
Sementara itu menurut guru Bahasa Indonesia, Stevi Fityu Anjari Ss, guru pendamping kelas jurnalistik, mengatakan, kelas jurnalistik ini berkelanjutan. Sebelumnya, kelas jurnalistik diikuti oleh siswa kelas 5. Selain materi menulis berita, juga disampaikan materi tentang fotografi dan teknologi informasi.
“Murid yang mengikuti kelas jurnalistik ini diharapkan nanti mampu membuat majalah dinding dan juga majalah sekolah,” ujarnya. (mol/kik)

































.md.jpg)






