Bulan Bahasa 2015
Sastra Sebagai Pintu Gerbang Pendidikan Karakter
Rabu, 18 November 2015 08:00 WIBOleh Linda Estiyanti
Oleh Linda Estiyanti
Kota - Pendidikan merupakan aspek penting dalam kehidupan tiap orang, guna menyiapkan diri menghadapi berbagai tantangan hidup yang mendera. Pada akhirnya nanti, pendidikan menjelma sebagai bentuk karakter seorang individu. Begitu disampaikan Tjahjono Widarmanto (42), sastrawan asal Ngawi, dalam seminar Bulan Bahasa 2015, Selasa (18/11) kemarin, di Pusat Belajar Guru (PBG), Jalan Rajawali.
Karakter, menurut Tjahyono, pada prinsipnya dibentuk dan dikembangkan melalui proses pendidikan. Kemudian karakter muncul sebagai hasil internalisasi individu atas apa yang ada dalam habitus (kebiasaan) di dunia sosial. Sehingga proses pendidikan, tanpa terkecuali pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, mampu memengaruhi bentuk karakter individu.
Sesuai ketentuan Kemendiknas (2010), nilai yang harus diterapkan dalam setiap individu berupa nilai religius, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.
Berkenaan hal tersebut, dari sekian banyak nilai, rupanya seluruhnya tidak bisa dipisahkan dari sastra. Seperti yang disampaikan Tjahjono, sastra sejak lahir, selalu membicarakan tentang nilai hidup dan kehidupan.
"Melalui sastra, seseorang akan diasah kreativitasnya, perasaan, kepekaan dan sensitivitas kemanusiaannya, sehingga mampu membentuk kehalusan adab dan budi pekerti," terang Tjahjono.
Pertanyaannya, kata Tjahjono, keberadaan sastra di Indonesia sudah lama, dan sudah diajarkan sejak dulu, namun mengapa masih sering terjadi krisis karakter?
Kembali lagi, model pembelajaran sastra yang diterapkan oleh guru menjadi muara penting pengajaran sastra di sekolah. Namun, sebagaimana kurikukum yang ada saat ini, justru membuat sastra belum mendapat perhatian maksimal.
"Sistem pendidikan yang ada saat ini masih menyumbat imajinasi dalam bersastra, sebab kurikulum masih didominasi oleh penalaran teknis dan keterampilan praktis," ungkap Tjahjono.
Dalam mewujudkan sastra sebagai sarana pendidikan karakter, pria asal Ngawi tersebut menyebutkan, dua hal yang perlu diperhatikan, yakni pemilihan bahan ajar dan pengelolaan proses pembelajaran. Dalam pemilihan bahan ajar harus mencakup empat aspek, yakni literer estetis, humanistis, etis dan moral, serta relugius-sufistik-profetis.
Sementara dalam pengelolaan pembelajaran, guru harus mengarahkan anak didik pada proses membaca karya sastra untuk menemukan nilai-nilai positif yang kemudian dapat membentuk karakter anak didik.
"Guru harus mendampingi siswa, namun pendampingan itu jangan sampai merenggut kebebasan eksploratif dan imajinatif siswa," pungkas penulis buku puisi Kubur Penyair (2002) itu.
Kemudian dalam mendampingi siswa agar mencapai isi dan nilai sastra, harus memperhatikan kategori khusus. Sastra yang dijadikan bahan harus disesuaikan dengan umur dan pola pikir siswa, meski kadang tidak tercantum dalam kurikulum.
"Kadang kita harus berani melompati kurikulum untuk tujuan yang lebih baik, yakni membentuk karakter siswa," tandasnya. (lyn/ moha)

































.md.jpg)






