Senam Massal Anti Korupsi
Ribuan Siswa SD Banjiri Lapangan Stadion Letjen Sudirman
Jumat, 20 November 2015 13:00 WIBOleh Mulyanto
Oleh Mulyanto
Kota - Ribuan siswa sekolah dasar berseragam olahraga membanjiri lapangan Stadion Letjen Sudirman Bojonegoro. Mereka pagi itu, Jumat (20/11), melaksanakan kegiatan senam anti korupsi yang dipromotori Forum Inklusi Bojonegoro. Kegiatan senam massal ini sebagai upaya menanamkan sikap anti korupsi kepada anak-anak sejak usia sekolah dasar.
Raut wajah ribuan siswa itu terlihat sangat gembira. Namanya juga anak-anak, kalau sudah kumpul teman-teman, mereka pun bercanda riang. Tidak peduli sinar matahari pagi yang cukup menyengat, mereka berjajar rapi. Gerakan senam sempat diulang empat kali, hanya karena mereka kurang serempak dalam gerakan senam.
Di tribun penonton, berjejal para orang tua yang ingin menyaksikan anak-anaknya bergerak dan berkumpul dengan ribuan anak sebayanya. Mereka juga antusias menikmati gerakan senam anti korupsi yang relatif masih baru dikenal.
Sayangnya, kegembiraan siswa mengikuti gerakan senam massal itu, tidak diikuti kegembiraan para guru dan kepala sekolahnya. Usai kegiatan senam massal sejumlah guru dan kepala sekolah malah menyatakan kekecewaannya.
Kepala SD Pacul III, misalnya. Saat ditemui beritabojonegoro.com (BBC), Dia mengatakan, memang bagus kegiatan senam massal anti korupsi ini. Namun panitia penyelenggara juga harus memikirkan transportasi dan minum para peserta.
"Acara ini kan bukan kebutuhan siswa belajar. Dan, selesai senam masal pun mereka harus kembali ke sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar," ujar kepala sekolah yang enggan disebutkan namanya itu.
Hal senada disampaikan pula Kepala SD Sukorejo I. Dia pun mengeluhkan pemberitahuan kegiatan senam anti korupsi dari Dinas Pendidikan yang dinilai terlalu mendadak. Kegiatan ini diberitahukan pada Jumat, pekan lalu. Sehingga mulai Senin (16/11), siswa harus mulai latihan di sekolah masing - masing. Tujuannya agar dalam pelaksanaan senam masal nanti peserta sudah hafal.
"Jam latihan senam di sekolah otomatis mengganggu pelaksanaa KBM yang berjalan. Karena siswa yang mengikuti senam masal itu mulai kelas 3 sampai 6. Sebenarnya berat sih untuk tidak mengganggu KBM, namun bagaimana lagi ini perintah dari Dinas Pendidikan," tandas perempuan berjilbab yang tidak mau namanya ditulis.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro Hanafi, mengatakan, kegiatan senam anti korupsi ini bukan kegiatan Dinas Pendidikan. Sehingga siswa yang mengikuti senam masal itu selesai kegiatan di stadion harus tetap mengikuti KBM di sekolah.
"Dinas Pendidikan hanya merekomendasikan kegiatan senam anti korupsi, dan sekolah tidak boleh memaksa siswa dengan mewajibkan untuk ikut," ucapnya.
Sementara itu, Ketua Forum Inklusi Bojonegoro Sukarni, yang juga selaku Kasi Kurikulum TK dan SD Dinas Pendidikan, mengatakan, dari panitia Forum Inklusi memang tidak memberikan ganti biaya transportasi dan konsumsi kepada pihak sekolah. Terkait biaya transport dan konsumsi, pihak sekolah sebenarnya bisa menggunakan dana otonomi sekolah, seperti dana BOS dan bantuan lainnya.
"Memang ini bukan kegiatan dari Dinas Pendidikan. Ini kegiatan Forum Inklusi Bojonegoro yang meminta rekomendasi Dinas Pendidikan," pungkasnya. (mol/tap)
*) Foto siswa berjajar rapi melakukan senam anti korupsi

































.md.jpg)






