MHTI Bojonegoro Bahas Permasalahan Umat
Rabu, 23 Desember 2015 08:00 WIBOleh Anna Mujahidah Mumtazah
Pengirim Anna Mujahidah Mumtazah
Kota - Pada Ahad 20 Desember 2015 diselenggarakan acara dialog tokoh muslimah se-Bojonegoro, Tuban dan Lamongan bertempat di aula Diknas Jalan Pattimura Bojonegoro oleh DPD 2 MHTI Bojonegoro. Adapun tema yang diangkat adalah “Negara sebagai Perisai Hakiki bagi Ibu dan Anak”. Acara dimulai sekitar pukul 08.00 hingga menjelang zuhur. Dalam acara ini menghadirkan pembicara lokal dan luar kota. Yakni Ustadzah Azifah dari Sidoarjo dan Ustadzah Khoirinnisa dari Bojonegoro.
Dialog ini dipandu oleh ustadzah Fatkhur Rohmah selaku moderator. Mengawali acara beliau mengungkapkan fakta yang ada di sekitar melalui tayangan video. Dilanjutkan pemaparan materi pertama oleh Ustadzah Azifah. Narasumber pertama ini menyampaikan fakta yang terjadi di lapangan seperti pemberdayaan perempuan,pengaruh media, tergerusnya keamanan bagi ibu dan anak di zaman sekarang ini. Terutama keamanan dalam persoalan akidah. Tayangan media terkadang kurang mendukung penancapan akidah. Seperti tayangan fiksi cara mendapatkan sesuatu dengan menggunakan alat ajaib sehingga tanpa sadar dan secara perlahan mengesampingkan keberadaan Allah. Di sisi lain alumnus MIPA UNAIR ini menyampaikan keberadaan lingkungan yang kurang nyaman menjadikan ibu dan para orang tua khawatir terhadap pribadi anak saat di luar rumah. Perlindungan negara terhadap ibu dan anak dinilai masih kurang.
Dilanjutkan narasumber kedua oleh Ustadzah Khoirinnisa menyampaikan peran negara terhadap ibu dan anak. Negara dengan aturan Islam dalam kejayaannya selama 13 abad begitu melindungi ibu dan anak. Negara menjadi perisai hakiki bagi ibu dan anak.Berbeda dengan era kapitalisme, seorang ibu kebanyakan menghabiskan waktu di tempat kerja. Ibu yang seharusnya menjadi al umm warabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga) kini berubah haluan menjadi wanita karier. Berangkat pagi pulang petang. Sehingga terkadang suami dan anak tidak terurus. Hal ini terjadi karena kebutuhan akan ekonomi sehingga mengharuskan ibu harus turut banting tulang. Negara akan menjadi perisai hakiki bagi ibu dan anak. Seperti halnya telah terjadi selama 13 abad. Yakni negara dengan menggunakan aturan Islam secara totalitas dalam naungan khilafah islamiyah. Kala itu seorang wanita yang disingkap hijabnya oleh kaum Yahudi, maka sekian banyak pasukan dihadirkan untuk memerangi orang Yahudi tersebut. Begitu juga pada masa pemerintahan Umar bin Khattab begitu besar kepeduliannya terhadap rakyatnya. Hingga tengah malam keliling perumahan penduduk menemukan seorang ibu yang memasak batu dikarenakan tidak memiliki makanan untuk anak-anaknya. Seketika itu Umar membawakan bahan makanan untuknya.Tegaknya sistem Islam butuh dukungan seluruh umat, bukan sekedar sekelompok jamaah.
Menurut ibu Solihah,peserta dan tokoh aktivis dari sebuah organisasi ternama di Indonesia memberikan testimoni di acara ini. Beliau menyampaikan kerinduannya akan tegaknya khilafah islamiyah dan berharap agar seluruh elemen dari ormas manapun bersatu padu menyuarakan dan berjuang menuju tegaknya khilafah Islamiyah. (ana/kik)

































.md.jpg)






