Pentingnya Rehat Gadget untuk Kesehatan
Selasa, 20 Januari 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Di tengah ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap teknologi, para ahli kesehatan mulai memberikan peringatan serius mengenai dampak penggunaan gawai secara berlebihan. Fenomena kelelahan digital kini menjadi perhatian utama karena memengaruhi kesehatan fisik maupun mental penggunanya.
Salah satu dampak yang paling sering dirasakan adalah Computer Vision Syndrome (CVS). Kondisi ini ditandai dengan mata lelah, penglihatan kabur, hingga sakit kepala akibat paparan cahaya biru (blue light) dari layar gawai dalam durasi lama. Selain mata, posisi tubuh yang statis saat menggunakan ponsel, seperti menunduk terlalu lama, dapat memicu ketegangan otot leher dan bahu yang kronis atau dikenal dengan istilah text neck syndrome.
Dampak Terhadap Kualitas Tidur
Paparan cahaya biru dari layar gawai pada malam hari terbukti dapat menghambat produksi hormon melatonin, yakni hormon yang mengatur siklus tidur manusia. Akibatnya, seseorang akan kesulitan terjaga pada waktunya atau mengalami penurunan kualitas tidur yang signifikan. Tidur yang tidak berkualitas dalam jangka panjang dapat menurunkan sistem imun tubuh dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif.
Secara psikis, penggunaan gawai yang terus-menerus tanpa jeda dapat memicu kecemasan dan stres digital. Arus informasi yang terlalu cepat sering kali membuat otak merasa kewalahan. Rehat sejenak dari media sosial dan aplikasi pesan singkat sangat diperlukan untuk memberikan ruang bagi otak guna beristirahat, meningkatkan kemampuan konsentrasi, serta memperbaiki hubungan sosial di dunia nyata.
Tips Melakukan Rehat Gadget yang Efektif
Para pakar kesehatan menyarankan beberapa langkah sederhana untuk menjaga keseimbangan:
-
Menerapkan Aturan 20-20-20: Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan untuk melihat objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik guna mengistirahatkan otot mata.
-
Membatasi Penggunaan Sebelum Tidur: Setidaknya 30 hingga 60 menit sebelum tidur, hindari penggunaan gawai agar otak dapat bersiap untuk istirahat total.
-
Menetapkan Area Bebas Gawai: Tentukan area tertentu di rumah, seperti meja makan atau kamar tidur, sebagai zona bebas perangkat elektronik untuk meningkatkan interaksi antaranggota keluarga.
-
Melakukan Digital Detox Berkala: Cobalah untuk menjauh dari gawai sepenuhnya selama beberapa jam di akhir pekan untuk melakukan aktivitas fisik atau hobi lainnya.
Teknologi diciptakan untuk mempermudah hidup, namun penggunaannya tetap harus dikendalikan agar tidak merugikan kesehatan. Melakukan rehat gawai bukan berarti anti-teknologi, melainkan sebuah upaya sadar untuk memprioritaskan kesejahteraan diri di tengah dunia yang serba digital.(red/toh)














.sm.jpg)















.md.jpg)






