Kemenkes Percepat Kedokteran Presisi Lewat BGSI: Tekan Biaya Kesehatan Penyakit Kronis dengan Genomik Personal
Selasa, 17 Februari 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Nasional – Kementerian Kesehatan RI terus mendorong transformasi kesehatan melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI), inisiatif nasional yang mengandalkan teknologi genomik untuk pengobatan lebih tepat sasaran. Langkah ini diharapkan menjadi solusi efektif mengatasi lonjakan pembiayaan kesehatan akibat penyakit kronis seperti kanker, jantung, dan stroke.
Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin menjelaskan bahwa pendekatan presisi ini menggeser paradigma lama "satu obat untuk semua" menjadi pengobatan berbasis profil genetik individu. Teknologi whole genome sequencing yang dikelola Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Binomika) memungkinkan pemeriksaan lebih akurat dan personal.
"Pemeriksaan kesehatan kita akan menjadi jauh lebih akurat, lebih presisi, dan lebih personal. Otomatis, pengobatannya juga bisa lebih tepat sasaran dan efektif dalam menyembuhkan," ujar Menkes Budi dalam Forum Komunikasi Strategis Nasional bertajuk “BGSI Ecosystem Roadshow” di Auditorium Leimena, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Hingga awal 2026, program BGSI telah merekrut lebih dari 20.000 partisipan dan berhasil menghasilkan sekitar 16.000 whole genome sequence manusia. Data ini bukan sekadar angka riset, melainkan fondasi penting untuk mengurangi pemborosan anggaran kesehatan melalui diagnosis dan terapi yang lebih presisi.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menekankan manfaat fiskal dari pendekatan ini. Terapi yang tepat sasaran dapat memangkas biaya pengobatan berkepanjangan akibat diagnosis kurang akurat.
"Jika terapinya tepat, pemborosan biaya pengobatan bisa dihindari. Keuangan negara di sektor kesehatan akan menjadi jauh lebih efektif," kata Febrian.
Ia juga mengingatkan bahwa pengembangan ini adalah proses jangka panjang seperti "lari maraton", memerlukan konsistensi dan komitmen lintas sektor.
Dukungan kuat juga datang dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan. Ia mendorong perluasan inisiatif genomik tidak hanya untuk kesehatan, tetapi juga optimalisasi keanekaragaman hayati Indonesia guna mendukung ketahanan pangan dan ekonomi nasional.
"Potensi sumber daya genetik kita harus dikelola secara optimal," tegas Luhut.
Saat ini, BGSI didukung oleh 10 rumah sakit sebagai hubs jejaring utama. Ke depan, integrasi data genomik ini diharapkan menjadi pilar sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh, mandiri, dan berorientasi pada precision medicine.
Dengan fokus pada penyakit prioritas seperti stroke, jantung, dan kanker payudara sebagai pilot project, BGSI diharapkan mereformasi industri kesehatan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, di mana pengobatan tidak lagi umum, melainkan sangat personal dan efisien.
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mohamad Tohir































.md.jpg)






