Parade Oklik dan Obor Sewu Semarakkan Akhir Ramadan di Bojonegoro
Jumat, 20 Maret 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Terang temaram ribuan obor menghiasi malam di tengah kota Bojonegoro. Sebanyak 1.100 obor dan bebunyian musik khas dari 24 grup oklik menyemarakkan gelaran Parade Oklik dan Pawai Obor Sewu yang dipusatkan di Alun-alun Bojonegoro, Kamis (19/03/2026) malam.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro ini menjadi magnet bagi ribuan warga yang memadati sepanjang rute pawai. Kehadiran para siswa dari 50 lembaga sekolah sebagai peserta pun menambah energi segar dalam pelestarian tradisi di penghujung bulan suci Ramadhan tersebut.
Arak-arakan dimulai dari Jalan Mas Tumapel, menyusuri jalan-jalan protokol seperti Jalan Imam Bonjol, Mastrip, MH Thamrin, Panglima Sudirman, Trunojoyo, hingga akhirnya kembali finis di titik awal. Sepanjang perjalanan, suara khas musik oklik—instrumen bambu tradisional—berpadu apik dengan nyanyian religi, menciptakan atmosfer Lebaran yang kental.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, yang hadir langsung membuka acara menegaskan bahwa agenda tahunan ini bukan sekadar seremoni. Baginya, ini adalah misi penyelamatan warisan leluhur.
"Parade Oklik selalu kita adakan setiap tahun karena kita ingin memperkenalkan budaya daerah, terutama kepada anak muda yang saat ini mulai banyak yang belum mengenal warisan budaya Bojonegoro," tegas Setyo Wahono dalam sambutannya.
Bupati menekankan bahwa oklik, bersama tari thengul dan karawitan, adalah identitas kuat yang dimiliki Bojonegoro. Ia berharap oklik tidak hanya muncul setahun sekali, tetapi tumbuh subur di tiap wilayah.
"Saya berharap setiap kecamatan memiliki minimal dua hingga tiga grup oklik yang bisa menjadi kebanggaan bersama," tambahnya sembari mengajak seluruh jajaran camat hingga kepala desa untuk aktif melakukan pembinaan.
Dampak dari kemeriahan ini terasa langsung oleh masyarakat. Silvi, salah satu warga setempat, mengaku sengaja memboyong keluarganya demi menyaksikan pendar seribu obor tersebut.
"Acara ini sangat menghibur, apalagi menjelang Lebaran. Suasananya jadi sangat terasa. Semoga tahun depan terus ada dan makin meriah," ujar Silvi penuh harap.
Di tengah gempuran tren modern, Parade Oklik dan Pawai Obor Sewu ini membuktikan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Bojonegoro, sekaligus menjadi pengingat identitas di tengah perkembangan zaman.












































.md.jpg)






