Gubernur Jatim Targetkan Produksi Padi Tetap Stabil di Tengah Ancaman Kekeringan
Sabtu, 28 Maret 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Jawa Timur – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mulai melakukan langkah mitigasi menghadapi potensi kekeringan yang diprediksi akan melanda wilayah Jawa Timur pada pertengahan tahun 2026. Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) yang digelar di Gedung Negara Grahadi, Jumat (27/03/2026) kemarin, Gubernur menekankan pentingnya kesiapsiagaan dini guna menjaga stabilitas produksi padi di lumbung pangan nasional ini.
Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), beberapa wilayah di Jawa Timur diperkirakan mulai memasuki fase kekeringan secara bertahap sejak April 2026. Intensitas kekeringan tersebut diprediksi akan terus meningkat pada Mei dan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
Gubernur Khofifah mengingatkan bahwa meskipun saat ini beberapa wilayah masih menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan tidak boleh dikesampingkan. Ia mencontohkan wilayah Tuban yang dilaporkan sudah mulai mengalami dampak kekurangan air.
“Di saat masih ada banjir, kita juga harus bersiap. Bahkan hari ini di Tuban sudah ada yang mengalami kekeringan,” katanya.
Tujuan utama dari koordinasi cepat ini adalah memastikan ketersediaan air untuk lahan pertanian tetap terjaga. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan angka produksi padi tetap stabil dan tidak terganggu oleh fenomena alam tersebut, demi menjaga ketahanan pangan daerah maupun nasional.
Sebagai langkah konkret, pemerintah telah menyiapkan dukungan sarana prasarana, termasuk penyediaan pompa air untuk wilayah terdampak. Jumlah unit yang akan dikerahkan akan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, dengan kesiapan penambahan armada jika eskalasi kekeringan meluas, terutama jika terjadi fenomena El Nino yang signifikan.
“Dinas Pertanian memetakan daerah-daerah yang membutuhkan irigasi perpompaan agar suplai air untuk pertanian tetap terjaga dan produksi tidak terganggu,” imbuhnya.
Melalui langkah proaktif ini, diharapkan sinergi antara pemerintah daerah, instansi terkait, dan para petani dapat meminimalisir risiko gagal panen serta memastikan distribusi air bersih untuk konsumsi masyarakat tetap lancar selama musim kemarau berlangsung.
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mohamad Tohir











































.md.jpg)






