Cegah Penyebaran Nyamuk Aedes Aegypti
Gerakan 3M dan Abatisasi Lebih Efektif Daripada Fogging
Selasa, 19 Januari 2016 15:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota - Cara mudah dan murah untuk mencegah penyebaran nyamuk aedes aegypti, pembawa penyakit Demam Berdarah, adalah melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan abatisasi. Gerakan PSN atau lebih dikenal dengan istilah 3M, yakni Menguras, Mengubur dan Menutup, ditambah penebaran abate, lebih efektif dibanding cara pemberantasan nyamuk lainnya, seperti pengasapan.
Hal ini diungkapkan Kasi Pengamatan Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro Kun Sucahyono, melalui rilis media Bagian Humas dan Protokol Pemkab Bojonegoro, Selasa (19/01).
"Yang paling penting jangan ada genangan ataupun media yang bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk di sekitar rumah tinggal," terang Kun Sucahyono.
Kun mengingatkan, lakukan pengurasan setiap 3 hari sekali pada bak kamar mandi, vas bunga, atau tempat minum hewan piaraan. Demikian itu untuk memutus perkembangbiakan nyamuk yang memiliki badan kecil, warna hitam dengan bintik-bintik putih. "Tempat lain yang menjadi sarang nyamuk adalah pakaian yang bergantungan dalam kamar," ujarnya.
Ditegaskan Kun Sucahyono, masyarakat punya andil besar untuk membuat lingkungan bebas dari DB dan serangan nyamuk aedes aegypti. Stigma masyarakat bahwa nyamuk hanya diberantas dengan pengasapan (fogging) harus diubah.
Sebab, fogging bukan langkah tepat meminimalisir perkembangbiakan nyamuk DB. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik-jentik nyamuk tetap hidup dan berkembang jadi nyamuk dewasa lagi.
"Untuk memutus mata rantai nyamuk juga dapat dilakukan dengan kearifan lokal. Misalnya, di bak mandi diisi dengan ikan. Ini sangat sederhana dan efetif mematikan jentik nyamuk," jelasnya.
Tidak lupa dia menyebutkan, menurut data Dinkes Bojonegoro sejak 2015 hingga awal 2016 ditemukan 586 kasus DBD. Rinciannya, Januari 99 kasus, Februari 92 kasus, Maret 76 kasus, April 45 kasus, Mei 40 kasus, Juni 26 kasus, Juli 30 kasus, Agustus 17 Kasus, September 12 Kasus, Oktober 20 kasus, November 44 kasus, dan Desember 60 kasus. "Sedangkan awal 2016 hingga tanggal 18 Januari ditemukan 25 kasus," pungkasnya. (ver/tap)

































.md.jpg)






