60 Warga Desa Karanglo Mengeluhkan Sakit Ispa Setiap Bulan
Senin, 04 April 2016 10:00 WIBOleh Betty Aulia
Oleh Betty Aulia
Tuban – Warga Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, yang berobat ke Puskesmas Pembantu (Pustu) per bulan sekitar 60 orang mengeluhkan gangguan infeksi saluran pernapasan atas (Ispa). Data di Pustu Desa Karanglo menyebutkan, dari 250 warga yang berobat sekitar 50 sampai 60 pasien menderita Ispa.
Menurut Mantri Pustu Desa Karanglo, Mulyadi, penyakit yang banyak dikeluhkan pasien adalah Ispa, sedangkan keluhan urutan kedua adalah penyakit nyeri otot. Gejala pasien penderit Ispa di antaranya mengalami sakit kepala, asma, dan peradangan pada tenggorokan (bronkitis).
Meski banyak warga yang menderita Ispa, Mulyadi menyinggung penyebab kematian di Desa Karanglo dalam rentang waktu 45 ada 61 orang meninggal adalah wajar. Ia menyebutkan kematian warga itu bukan disebabkan karena penyakit paru-paru, melainkan penyakit lain.
“Kebanyakan meninggal karena (menderita) diabetes, hipertensi dengan stroke, kecelakaan, dan usia tua. Sedangkan ketika ada pasien menderita penyakit paru-paru, biasanya ada petugas program sendiri, biasanya kami kirim ke Puskesmas Kerek karena alatnya ada di sana,” ujar Mulyadi.
Petugas TB Paru-Paru Puskesmas Kerek, Suponon menyebutkan, tidak ada data pendukung yang menyatakan 61 warga meninggal disebabkan menderita paru-paru. Ia tidak meyakini data dari berita yang beredar perihal penyebab kematian warga karena menderita paru-paru.
“Yang ada selama 2016 (kematian) ada lima kasus TB paru. Hasil rontgen karena ekstra paru. Kemungkinan kades (Kepala Desa) tidak tahu apa itu penyakit paru-paru. Kami tidak bisa menerima data itu,” ungkapnya.
Sementara itu, seorang warga Desa Karanglo, Sari menyatakan, pada tanggal 15 Maret 2016, ibunya meninggal diduga karena menderita penyakit paru-paru. Ia juga menunjukkan hasil foto rontgen ibunya.
“Ibu saya dirawat di rumah sakit (RS NU Tuban) dua hari. Sebelumnya mengalami batuk-batuk sekitar dua minggu. Sakit nafas lalu dibawa ke rumah sakit, setelah itu meninggal dunia,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Karanglo, Sunandar mengatakan alat deteksi pencemaran udara yang dipasang oleh Balai Lingkungan Hidup (BLH) di depan kantor balai desa sudah lama tidak berfungsi. Desa Karanglo merupakan salah satu desa yang masuk ring satu pabrik semen yang berdiri di wilayah Kecamatan Kerek.
“Udara di desa ini pernah dites oleh pihak pabrik semen pada atanggal 7 sampai 14 Maret (2016), tapi kami tidak tahu hasilnya karena kami tidak pernah diberi laporan hasilnya,” kata Sunandar.
Sunandar berharap, adanya angka kematian yang cukup besar di desanya, ke depan ada pengukuran udara secara berkala dan diberitahukan kepadanya. Sehingga, aparat desa dan warga mengetahui kondisi udara di desanya. (ety/kik)











































.md.jpg)






