Bulog Tak Serius Serap Gabah Petani
Kamis, 12 Mei 2016 18:00 WIBOleh Muliyanto
Oleh Muliyanto
Kota – Penyerapan beras oleh Urusan Logistik (Bulog) dari petani di Kabupaten Bojonegoro dinilai kurang serius. Banyak petani yang merasa dipermainkan oleh Bulog. Ditambah lagi, masih banyak tengkulak yang membeli gabah mereka dengan harga murah.
Program Bulog yang akan menyerap semua gabah petani ternyata hanyalah sekedar program, tidak dijalankan dengan serius. Bahkan, saat ini banyak masyarakat yang masih merasa dipermainkan oleh tengkulak. Saat akan membeli gabah, tengkulak sangat rentan membeli dengan harga sangat rendah. Bulog semestinya turun tangan mengatasi ini, sebagaimana program yang dijanjikan, akan membeli langsung dari petani dengan harga normal.
Baca Bulog Akan Terjun Langsung Membeli Gabah Petani
Seperti yang dialami petani asal Kecamatan Trucuk, Yasdi (46). Dia mengatakan, saat ini harga gabah berbeda dengan tahun lalu. Banyak tengkulak yang mempermainkan harga.
"Saya pernah menghubungi Bulog Bojonegoro untuk menyerap gabah kami. Namun Bulog menyuruh tengkulak area Trucuk untuk membeli dengan harga rendah, yakni 2.900 rupiah perkilogram,” katanya.
Kondisi itu tentu cukup miris. Padahal jelas, dalam aturan HPP untuk gabah dan beras pada 2015 mengalami peningkatan, dibandingkan yang diterapkan dalam Inpres no 3 tahun 2012. Berdasarkan Inpres nomor 5 tahun 2015, GKP Rp3.700/ Kg di petani dan Rp3.750/Kg di penggilingan, GKG Rp4.600/Kg di petani, dan Rp4.650/Kg di Gudang Bulog serta beras Rp7.300/Kg di gudang Bulog.
Yasdi mengaku, harga itu tak berlaku dalam prekteknya. Bulog beralasan stok masih banyak dan kualitas gabah berkurang.
Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro, Sigit Kusharianto, memberikan komentar tentang kondisi yang dikeluhkan petani itu. Menurut Sigit, saat ini Bulog belum siap dalam menyerap beras petani saat ini.
Sigit menjelaskan, jika Bulog serius menyerap beras petani, maka fluktuasi harga gabah bisa stabil dan harga beras tidak perlu naik, sebab saat ini harga beras di pasar naik.
“Gudang Bulog yang terletak di Kalitidu sering saya lihat agar bisa terkontrol. Saat ini banyak keluhan dari masyarakat akan sulitnya menjual gabah,” kata Sigit kepada beritabojonegoro.com (BBC), Rabu (11/05) kemarin.
Sementara itu, Bulog memberikan pernyataan saat ditemui wartawan BBC. Kepala Bulog Sub Divisi Regional III Efdal mengatakan, pihaknya sudah berusaha menyerap gabah dari petani dengan sesuai peraturan. Namun dia menegaskan, Bulog tidak bisa melarang tengkulak membeli gabah dari petani.
"Saat ini kami berusaha menyerap dan sudah tercapai 40 persen dari total petani,” kata Efdal. (mol/moha)































.md.jpg)






