Balai Bahasa Jatim Teliti Sastra Jawa Bojonegoro
Rabu, 15 Juni 2016 12:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota - Tim peneliti bahasa dari Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) mendatangi Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) pada Senin (13/05) di Desa Padangan Kecamatan Padangan. PSJB merupakan sebuah lembaga kreativitas pemerhati dan perawat sastra berbahasa Jawa yang ada di Bojonegoro. Tujuan kedatangan tim ini adalah untuk menggali data lebih dalam dari PSJB tentang perkembangan sastra Jawa di Bojonegoro.
Dipilihnya PSJB, dengan alasan konsitensi PSJB dalam mengembangkan bahasa jawa di Bojonegoro. Karya yang dihasilkan oleh PSJB hingga kini mencapai sekitar 50, baik puisi maupun cerpen dalam bahasa Jawa. PSJB sendiri berdiri 6 Juli 1982 sampai sekarang.
Mashuri, salah satu peneliti dari BBJT menjelaskan bahwa pihaknya ingin menggali lebih jauh konsep estetika dari PSJB. “Kami ingin menggali bagaimana kearifan, estetika dan budaya lokal mempengaruhi perkembangan sastra Jawa di Bojonegoro,” jelas Mashuri.
Mashuri juga menambahkan bahwa sastra di Bojonegoro sangat unik karena mempunyai kekhasan bahasa sendiri. “Kekhasan bahasa di Bojonegoro, bisa menjadi penguat sastra kewilayahan yang ada di Jawa Timur,” tambah pria penulis novel berjudul Hubbu (2006) itu.
Senada dengan penjelasan itu, peneliti lainnya, Anang Santosa menyampaikan tentang perlunya pemetaan kewilayahan sastra jawa di Jawa Timur. “Penelitian ini diharapkan mampu memetakan kewilayahan sastra jawa yang ada di Jawa Timur,” papar Anang.
“Selain itu, kami berharap dengan penelitian ini, kami mengetahui bagaimana sastra memiliki fungsi di kalangan masyarakat secara luas,” imbuh pria berkacamata itu.
Gampang Prawoto, salah satu anggota PSJB menceritakan bahwa bahasa Jawa Bojonegoro belum bisa diterima sebenuhnya secara umum. “Bahasa Jawa masih berkiblat pada Jogjakarta dan Solo, padahal tidak bisa dipungkiri di dalam bahasa Jawa ada dialek Bojonegoro, Pesisiran, bahkan Banten yang memiliki kekhasan sendiri,” kata Gampang, sembari menceritakan pengalaman pahitnya waktu karya sastranya yang menggunakan dialek bahasa Bojonegoro ditolak dewan juri disebuah event sastra.
Gampang juga memberikan apresiasi positif kepada BBJT karena menerima bahasa Jawa di Bojonegoro menjadi khasanah bahasa Jawa yang ada di wilayah Jawa Timur. “Bahasa Jawa dialek Bojonegoro adalah bahasa Jawa juga, semoga bahasa Bojonegoro diterima dalam kasanah sastra Jawa di Indonesia, tidak hanya di Jawa Timur,” ujar pria gondrong penulis buku Puser Bumi dan sering mendapatkan penghargaan dibidang sastra itu.
Penelitian kewilayahan bahasa dan sastra yang dilakukan tiga peneliti dari BBJT, Yulitin Sungkowati, Anang Santosa dan Mashuri itu direncanakan dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 13 sampai 16 Juni 2016.(ver/moha)
*) Foto 3 anggota peneliti dari BBJT











































.md.jpg)






