Ngeri Tapi Asyik, Bimbel di Kuburan
Senin, 07 September 2015 07:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota – Buat sebagian orang, mendapat tambahan jam belajar di luar sekolah atau sering disebut les adalah hal yang wajib. Les bisa dilakukan di lembaga bimbingan belajar elite, dengan kursi, komputer dan ruangan nyaman. Tetapi untuk sebagian yang lain, bisa sekolah saja sudah untung. Tetapi ketika ada les yang bertempat di kuburan dan gratis, bagaimana ya? Adalah Agung Ridwan yang tinggal di Dukuh Ngrowo Rejo Desa Ngrowo Kabupaten Bojonegoro berani melakukannya.
Bocah berawakan ceking ini bercerita dengan semangat mengenai ketertarikannya terhadap anak-anak di sekitarnya. Buku menjadi kawan yang paling mengena darinya. Berawal pertemuannya dengan buku Room To Read karya John Wood. Di mana John Wood sampai keluar dari perusahaan raksasa di Amerika untuk membuat perpustakaan di berbagai wilayah yang membutuhkan.
Agung terinspirasi dari John Wood untuk membuat perpustakaan keliling. Hanya karena tidak memiliki modal, bukan berarti dia tidak bisa mewujudkannya. Dia mengirim pesan ke beberapa guru dan kenalannya, untuk pengumpulan buku. Bahkan dia menggunakan uang pendaftaran kuliahnya untuk dibelikan buku anak-anak. Idenya untuk membuat perpustakaan keliling dengan becak.
Perpustakaan nya pun berjalan. Di sisi lain, Agung menyadari bahwa di lingkungannya tempat ia tinggal begitu banyak anak-anak yang berkeinginan untuk maju, namun kondisinya tidak mendukung. Anak-anak itu tetap bersekolah, namun kemampuannya untuk menyerap ilmu di sekolah ternyata belum mumpuni. Di sini Agung pun bergerak. Dengan sedikit ilmu yang dia miliki dari SD- SMA, dia memberikan les kepada mereka.
Bila les di tempat lain menggunakan ruangan yang bersih, kelas yang nyaman, serta kursi yang empuk. Maka anak-anak itu harus rela untuk les di dekat makam, lebih tepatnya di dalam kompleks pemakaman. Dengan melihat sekitar saja sudah bisa melihat kuburan. Beralaskan terpal dan papan tulis yang Agung bawa dari rumah. Maka les pun dimulai.
Agung adalah orang yang suka sekali berinteraksi dengan anak-anak. Dia berusaha belajar dari buku dan pengalaman guru-guru bagaimana mencuri perhatian anak-anak agar terfokus padanya. Seringkali Agung menggunakan boneka untuk mendongeng, mengiming-imingi anak-anak dengan foto. Agung juga tidak pernah memberatkan mereka dengan meminta bayaran. Cukup dengan sebotol minuman bekas saja, Agung sudah gembira. Hal ini dilakukannya agar anak-anak tersebut memiliki impian yang tinggi.
Sayang sekali, Agung sering kali kesulitan terhadap operasional kegiatannya. Seperti buku mewarnai, pensil, pensil warna, dan hadiah-hadiah kecil yang diberikan kepada anak-anak. Untuk menutup biaya tersebut, Agung tidak jarang mengamen dari satu tempat ke tempat yang lain. Agung pernah bekerja di salah satu tempat les bergengsi di Bojonegoro sebagai office boy. Hanya saja , karena fisiknya yang lemah dia sering jatuh sakit.
Untuk koleksi bukunya, biasanya Agung memposting kegiatannya di facebook. Dan menawarkan bagi orang-orang yang mau membantu kegiatan sosialnya. Ada beberapa kiriman buku dari luar daerah yang pernah diterimanya. Dan juga donasi dari beberapa kenalannya. Saat ini selain dia, beberapa sahabatnya masih mengagendakan perpustakaan keliling becaknya.
Baginya, kalau untuk membantu anak-anak kecil itu keluar dari kemiskinan bisa dilakukan maka dia akan melakukannya sekarang, Karena belum tentu dia akan masih hidup besok.
Untuk pembaca yang mau menyumbang buku bacaan, buku pelajaran, buku tulis, peralatan sekolah baik bekas ataupun baru tetap diterima. Selain itu pembaca juga bisa bergabung menjadi relawan atau donatur untuk kegiatan perpustakaan keliling dengan becak atau bimbingan belajar alias les di makam, bisa langsung menghubungi Agung di nomor telepon 08997251873. (ver/kik)

































.md.jpg)






