News Ticker
  • Diduga Epilepsi Kambuh, Seorang Nenek di Balen, Bojonegoro Ditemukan Meninggal di Sawah
  • Demo Mahasiswa Tolak Pengesahan UU TNI di Bojonegoro Diwarnai Kericuhan
  • Ratusan Mahasiswa di Bojonegoro Gelar Demo Tolak Pengesahan UU TNI
  • Tabrakan Motor di Padangan, Bojonegoro, Seorang Pemotor Warga Blora Meninggal Dunia
  • Motor Tabrak Truk Parkir di Pohwates, Bojonegoro, Pengendara Motor Meninggal di TKP
  • AMSI Jatim Kecam Tindak Kekerasan Aparat terhadap Wartawan saat Meliput Aksi Tolak UU TNI di Surabaya
  • AJI Bojonegoro Kecam Pelaku Kekerasan Terhadap Jurnalis saat Meliput Aksi Tolak UU TNI di Surabaya
  • Diduga Serangan Jantung, Petani di Sukosewu, Bojonegoro Ditemukan Meninggal di Sawah
  • 2 Peristiwa Kebakaran Terjadi di Sukosewu dan Kedungadem, Bojonegoro
  • Imbas Mobil Menemper KA Kertajaya Tambahan di Lamongan, 10 Perjalanan KA Terganggu
  • 2 Unit Bangunan Toko di Pasar Desa Wotan, Sumberrejo, Bojonegoro Terbakar
  • Tabrakan Motor vs Motor di Kalitidu, Bojonegoro, 3 Orang Luka-luka, Satu Orang Dilarikan ke Rumah Sakit
  • Tak Ada Pagar Pembatas, Pembakaran Gas di Desa Klepek, Bojonegoro Berpotensi Bahayakan Warga
  • Tak Kunjung Habis, Semburan Gas dari Sumur Bor di Desa Klepek, Bojonegoro Dibakar
  • Tenggelam di Sungai, Seorang Nenek Warga Purwosari, Bojonegoro Ditemukan Meninggal
  • Inilah Nama-nama Jemaah Umrah Indonesia yang Meninggal Akibat Kecelakaan di Arab Saudi
  • Bupati Bojonegoro Serahkan Bantuan Sosial Tunai kepada Kelompok Rentan
  • Suasana Duka Selimuti Rumah Eny Soedarwati, Jemaah Umrah asal Bojonegoro yang Meninggal di Arab Saudi
  • Sesuaikan SOTK, Bupati Blora Kukuhkan 5 Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah
  • Bus Jemaah Umrah Indonesia Kecelakaan di Arab Saudi, 2 Jemaah Asal Bojonegoro Meninggal
  • Seorang Warga Jadi Korban Semburan Api Pipa Sumur Bor di Desa Klepek, Sukosewu, Bojonegoro
  • Semburan Api Muncul dari Pipa Sumur Bor di Desa Klepek, Sukosewu, Bojonegoro
  • Bupati Blora Arief Rohman Dilantik Jadi Ketua Badan BPeK DPW PKB Jateng
  • Diduga Akibat Korsleting Listrik, Kantor Desa Ketileng, Malo, Bojonegoro Terbakar
Sumpah Pemuda dan Ramalan Ronggowarsito

Sumpah Pemuda dan Ramalan Ronggowarsito

Oleh Totok AP

SEJAK sembilan tahun lalu, setiap 28 Oktober, saya hanya teringat itu hari ulang tahun anak pertama saya. Dia lahir tepat 28 Oktober 2006. Maafkan kalau lupa. Kata orang, tanggal itu, pada 87 tahun silam, terjadi peristiwa penting yang menjadi tonggak sejarah kemerdekaan negeri ini.

Kata orang lagi, peristiwa itu awal kesadaran penghuni negeri ini terhadap persatuan dan kesatuan. Lalu, apa yang terjadi? Menurut kabar, seperti juga yang diajarkan bapak-ibu guru sejak saya di sekolah dasar, pada 28 Oktober 1928 itu para pemuda berkumpul dan bersepakat. Makanya hingga kini dikenal sebagai hari sumpah pemuda.

Sudah lama sekali ternyata. Para pemuda itu bersepakat, hampir satu abad lalu. Mereka sepakat, mengaku bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia, mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan satu, Bahasa Indonesia.

Kurang lebihnya seperti itu. Maaf kalau tidak plek dengan bunyi sumpah sebenarnya. Sesuai sejarah, saya akui tidak hafal. Saat nulis ini, saya tanya pada anak pertama saya yang ditakdirkan lahir 28 Oktober. Dia mendikte cepat sekali. Rupanya di luar kepala dia hafal, akibat bimbingan ibu gurunya pekan lalu.

Tapi itu tidak usah diperdebatkan. Yang penting, kenapa sumpah pemuda itu keramat sekali? Saya terpaksa menggunakan kata “sumpah”, meskipun menurut beberapa sejarawan pada kongres 1928 itu tidak tercatat kata “sumpah”. Mereka bilang telah terjadi pembelokan sejarah.

Tidak jadi soal bagi saya, biarkan sejarawan menggonggong, kata “sumpah” tetap saya gunakan. Karena kadung akrab di telinga.

Kembali lagi ke sumpah pemuda. Para orang tua bilang, kekeramatan sumpah para pemuda itu hampir sekelas dengan keramatnya Jangka Jayabaya atau ramalan Ronggowarsito. Maklum, sumpah pemuda itu merupakan efek ramalan tokoh keduanya. Kok bisa?

Konon, jauh sebelum keluarnya sumpah pemuda, Jangka Jayabaya melalui syiir di Kitab Musarar, mengabarkan, akan munculnya jaman kalabendu atau serba kesemrawutan. Lalu Ronggowarsito juga melalui syiirnya menguatkan akan terjadinya jaman edan. Sopo sing ora ngedan, ora bakal keduman. Unen-unen itu pun dikeramatkan hingga hari ini. Apalagi, memang nyata terjadi di jaman sekarang ini.

Kalau boleh otak-atik mathuk, ramalan Jayabaya dan Ronggowarsito itu lalu disikapi para pemuda generasi era tahun 20-an. Mereka gelisah dengan jamannya. Kisruh, semrawut, kolonial, adu domba, penindasan, pemerasan, korupsi, asal bapak senang, fitnah, upeti, pelanyahan, pelecehan, dan situasi kisruh lainnya. Kesemrawutan itu akibat tingkah kolonial Belanda, yang saat itu mencengkeram bumi Nusantara selama 263 tahun.

Mungkin para pemuda saat itu menyakini jamannya lah yang dimaksud dalam ramalan Jayabaya dan Ronggowarsito. Apalagi para pemuda saat itu juga berkelompok-kelompok. Ada Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Islamiten Bond, dan lainnya.

Tergugah situasi semrawut itu, di antara mereka lalu ada yang tampil menjadi pelopor. Mereka mengajak dan mengundang bertemu. Hingga terwujudlah konggres pemuda sebanyak dua kali. Konggres Pemuda I dilaksanakan di Batavia (Jakarta) pada 30 April-2 Mei 1926, dan diketuai Muhammad Tabrani.

Dilanjutkan, Kongres Pemuda II di gedung Katholikee Jongelingen Bond (Gedung Pemuda Katolik) dan gedung Oost Java (sekarang Medan Merdeka Utara Nomor 14) pada 27-28 Oktober 1928. Kongres Pemuda II dipimpin Sugondo Joyopuspito, wakilnya Joko Marsaid, sekretaris Muhammad Yamin, dan bendahara Amir Syarifuddin.

 

Kesepakatan untuk bertanah air Indonesia, bebangsa Indonesia, dan berbahasa Indonesia, akhirnya menjadi tumpuan perjuangan rakyat melawan penjajah. Hasilnya tegaklah Kemerdekaan Indonesia pada 17 tahun kemudian, yakni 1945. Tahun ini persis dengan ramalan Jayabaya dan Ronggowarsito ratusan tahun sebelumnya.

Jangka Jayabaya di Kitab Asrar (Musarar) yang ditulis Sunan Giri Prapen tahun 1816, meramalkan, datangnya penjajah bertubuh pendek, berkulit kuning, dan hanya seumur tanaman jagung. Penjajah itu diyakini sebagai bangsa Jepang, yang menduduki Indonesia selama 3,5 tahun, antara 1942-1945. Tanaman jagung, kata guru saya, umurnya sekitar 3,5 bulan.

Jadi, Jayabaya telah meramalkan peristiwa yang tepat tentang kedatangan penjajah Jepang. Diam-diam, saya dan anda semua mungkin, suka menanti-nanti ramalannya yang lain, khususnya tentang Satrio Piningit.

Berikutnya, Ronggowarsito pada 1830 memperkuat jangka jayabaya itu. Ranggawarsita meramalkan datangnya kemerdekaan, yaitu kelak tahun Wiku Sapta Ngesthi Janma. Kalimat terdiri empat kata itu terdapat dalam Serat Jaka Lodang. Merupakan kalimat Suryasengkala yang jika ditafsirkan diperoleh angka 7-7-8-1. Pembacaan Suryasengkala dibalik dari belakang ke depan, yaitu 1877 Saka, bertepatan dengan 1945 Masehi. Itu tahun kemerdekan Republik Indonesia.

Menilik paparan itu, dan dimasukkan dalam masa sekarang, banyak orang mengatakan bahwa jaman kesemrawutan dana jaman edan itu masih terjadi dan dirasakan hari ini. Korupsi, seks bebas, membakar hutan, tebang pohon, serobot tanah negara, penindasan, pemerasan, pelacuran, ulama jadi orang rumahan, semau gue, egoistis, wedok kaya lanang, lanang kaya wedok, dan sebagainya.

Saya pun bermimpi. Jika seandainya para pemuda sekarang ini mau berkumpul lagi melakukan semacam konggres seperti sumpah pemuda 1928 itu, alangkah indahnya. Tentunya dengan kesepakatan murni atas inisiatif dan ide para pemuda sendiri, lho. Sebab, tidak jarang ajang konggres-konggresan itu terlaksana atas arahan kepentingan yang dipolitisir. Anda tahu sendirilah yang saya maksud.

Jika pemuda sekarang bisa berkonggres pasti kesemrawutan negeri ini cepat teratasi. Mungkin tidak usah menunggu 17 tahun untuk menuju kemerdekaan yang senyata-nyata merdeka. Saya yakin itu. Kalau tidak percaya, ya dicoba saja.

Ada yang khawatir, apa ya bisa terjadi. Wong para pemuda sekarang itu jiwanya sudah terjajah teknologi informasi. Pemuda sekarang bernafas dengan facebook, twitter, whatsaap, dan medsos lainnya. kecanduannya sudah melebihi takaran minum obat 3 hari sekali. Sekarang itu, berdiri, duduk, berbaring, berjalan, bahkan berlari pun tidak lepas dari smartpone.

Bahkan yang parah, berkelompoknya pemuda sekarang berbeda dengan berkelompoknya pemuda generasi 1928. Sedikit sekali kelompok pemuda bernafas kedaerahan. Sekarang lebih kompleks dan variatif, mulai kelompok yang bernafaskan suporter fanatik bola, politik partisan, kanuragan, sesama jenis kelamin, hingga sampai penyuka mobil antik. Kata orang tua, pemuda sekarang lebih apatis, anti sosial, suka ngomel lewat medsos, suka tawuran, tidak nasionalis, semau gue dan sebagainya.

Jelas ini langeh tamun, meskipun tidak seratus persen. Tapi saya yakin, pemuda sekarang bisa lebih hebat bila melakukan konggres lintas kelompok dan golongan. Bersepakat untuk kemajuan negeri dan dunia ini. Apakah memang seperti itu? (*)

 

Ilustrasi dari jejamo.com

Banner Ucapan Selamat Idulfitri 1446 H
Berita Terkait

Videotorial

Peringatan Hari Menanam Pohon di Embung Babo, Desa Sidobandung, Bojonegoro

Berita Video

Peringatan Hari Menanam Pohon di Embung Babo, Desa Sidobandung, Bojonegoro

Bojonegoro - Dalam rangka peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten ...

Berita Video

Proses Evakuasi Orang Tercebur di Dalam Sumur di Ngraho, Bojonegoro

Berita Video

Proses Evakuasi Orang Tercebur di Dalam Sumur di Ngraho, Bojonegoro

Bojonegoro - Seorang laki-laki berinisial SNJ bin SPR (51) warga Dusun Tukbetung, Desa Nganti RT 047 RW 013, Kecamatan Ngraho, ...

Teras

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

Menyoroti Konsep Penanggulangan Bencana di Bojonegoro

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

"Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. ...

Opini

Program ‘Bojonegoro Klunting’, Sesat Pikir Tata Kelola APBD

Opini

Program ‘Bojonegoro Klunting’, Sesat Pikir Tata Kelola APBD

Bojonegoro - Jika hari ini ada beberapa kelompok menggiring opini bahwa dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bojonegoro ...

Quote

Bagaimana Ucapan Idulfitri yang Benar Sesuai Sunah Rasulullah

Bagaimana Ucapan Idulfitri yang Benar Sesuai Sunah Rasulullah

Saat datangnya Hari Raya Idulfitri, sering kita liha atau dengar ucapan: "Mohon Maaf Lahir dan Batin, seolah-olah saat IdulfFitri hanya ...

Sosok

Pratikno, di Mata Mantan Bupati Bojonegoro, Kang Yoto

Sosok

Pratikno, di Mata Mantan Bupati Bojonegoro, Kang Yoto

Bojonegoro - Salah satu putra terbaik asal Bojonegoro, Prof Dr Pratikno MSoc Sc, pada Minggu malam (20/10/2024) kembali dipilih menjadi ...

Infotorial

Pertamina EP Cepu Dorong Keberlanjutan Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Agrosilvopastura

Pertamina EP Cepu Dorong Keberlanjutan Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Agrosilvopastura

Bojonegoro - Pertamina EP Cepu (PEPC) melalui Program Biru Langit Jambaran Tiung Biru meluncurkan inisiatif agrosilvopastura yang mengintegrasikan pengelolaan kehutanan, ...

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Blora - Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD dan warga sekitar terus melakukan pencarian terhadap serpihan pesawat tempur T-50i Golden ...

Religi

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Judul itu menjadi tema pembekalan sekaligus pengajian Rabu pagi (24/01/2024) di Masjid Nabawi al Munawaroh, Madinah, kepada jemaah umrah dari ...

Wisata

Wisata Alam Gua Terawang Ecopark Blora Kini Semakin Menarik

Wisata

Wisata Alam Gua Terawang Ecopark Blora Kini Semakin Menarik

Blora - Objek wisata Gua Terawang Ecopark, di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah menjadi salah satu destinasi ...

Hiburan

Blora Social Media bakal Gelar Festival 'Thethek' untuk Kedua Kalinya

Blora Social Media bakal Gelar Festival 'Thethek' untuk Kedua Kalinya

Blora - Komunitas Blora Social Media (Blosmed) akan menggelar "Festival Thethek" untuk kedua kalinya. Jumat (28/03/2025) mendatang. Dengan mengambil tema ...

1743774039.4348 at start, 1743774039.916 at end, 0.48115301132202 sec elapsed