Eks Penambang Pasir Bengawan Solo, Butuh Pekerjaan Baru
Selasa, 11 Agustus 2015 07:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh: Nasruli Chusna
Gayam - Penertiban penambang pasir ilegal di tepi Bengawan Solo menimbulkan masalah baru. Para penambang yang sebelumnya mengandalkan pasir Bengawan Solo untuk bertahan hidup, sekarang harus mencari pekerjaan baru.
Seorang penambang dari Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Djaswadi (30), kini harus berpikir keras memulai usaha baru. Bahkan, pria bergelar Sarjana Hukum dari perguruan tinggi di Jakarta itu, kini mulai mengembangkan pertanian berbasis pupuk organik bersama pemuda-pemuda setempat.
"Tentu saja kita harus mencari alternatif pekerjaan lain. Karena dari dahulu hingga sekarang masyarakat sini bergantung pada pekerjaan tambang pasir. Sedangkan saat ini tidak diperbolehkan. Apa boleh buat, kita maksimalkan saja lahan yang ada untuk bertani," ceritanya lirih.
Sementara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro meminta agar Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro memberikan pekerjaan pengganti bagi para penambang pasir mekanik disepanjang aliran Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro. Sebagai-mana disampaikan Wakil Ketua Komisi A, Anam Warsito.
"Jika tak ada alternatif pekerjaan lain, sangat mustahil mereka bisa konsisten tidak melakukan penambangan ilegal lagi," paparnya.
Politisi dari Partai Gerindra itu menambahkan, alternatif itu bisa berupa bantuan hewan atau alat untuk usaha agar bisa digunakan para penambang mengais rejeki, setelah tidak lagi menjadi penambang pasir mekanik.
Selain itu, lanjut Anam, jika bantuan hewan ternak dapat dilaksanakan maka perlu juga pengawasan lebih lanjut. Hal ini untuk mengantisipasi agar bantuan yang diberikan tidak dijual. (rul/inc)






































