Anda Tetap Bisa Diet Tanpa Anti Makanan Favorit
Sabtu, 17 Januari 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Di tengah maraknya tren diet ekstrem yang sering membuat orang kelelahan dan mudah menyerah, pendekatan kesehatan baru semakin populer, yaitu teknik diet tanpa anti-makan atau dikenal sebagai intuitive eating dan mindful eating. Metode ini menekankan mendengarkan sinyal tubuh alami tanpa larangan makanan tertentu, sehingga tetap bisa menikmati hidangan favorit sambil menjaga berat badan dan kesehatan secara berkelanjutan.
Intuitive eating, yang pertama kali diperkenalkan oleh dua ahli gizi Evelyn Tribole dan Elyse Resch pada 1995, bukanlah diet tradisional. Prinsip utamanya adalah makan saat benar-benar lapar, berhenti saat kenyang, dan memilih makanan berdasarkan keinginan serta kebutuhan tubuh—tanpa label "makanan baik" atau "buruk". Pendekatan ini menolak pantangan ketat, menghilangkan rasa bersalah setelah makan, dan fokus pada hubungan harmonis antara tubuh, pikiran, serta makanan.
Sementara itu, mindful eating melengkapi dengan teknik praktis: makan perlahan, tanpa distraksi seperti ponsel atau TV, serta benar-benar menikmati rasa, tekstur, dan aroma makanan. Dengan mengunyah lebih lama (idealnya 20-30 kali per suapan), otak punya waktu lebih untuk menerima sinyal kenyang dari perut, sehingga porsi makan otomatis lebih terkendali tanpa perlu menghitung kalori secara obsesif.
Manfaat utama dari teknik ini meliputi:
1. Penurunan berat badan alami dan stabil karena mengurangi makan berlebih akibat emosi, stres, atau bosan.
2. Peningkatan kesehatan mental: mengurangi risiko gangguan makan, depresi, dan rasa bersalah terhadap makanan.
3. Kesehatan fisik lebih baik: stabilisasi energi, pencernaan optimal, dan penurunan risiko tekanan darah tinggi serta masalah metabolik.
4. Keberlanjutan jangka panjang: karena tidak ada aturan kaku, metode ini lebih mudah dipertahankan dibanding diet yo-yo yang sering gagal setelah beberapa minggu.
Dokter gizi dan ahli nutrisi di Indonesia semakin merekomendasikan pendekatan ini, terutama bagi mereka yang lelah dengan diet pembatasan. "Alih-alih anti makanan tertentu, lebih baik kita pahami apa yang tubuh butuhkan dan nikmati prosesnya. Ini membuat pola makan jadi bagian gaya hidup, bukan hukuman," kata seorang pakar gizi dalam wawancara terkini.
Untuk memulai, coba langkah sederhana:
- Kenali rasa lapar fisik (perut keroncongan, lemas) vs lapar emosional.
- Makan tanpa gangguan, fokus penuh pada makanan.
- Berhenti makan saat sudah 80% kenyang, bukan sampai sangat kenyang.
- Izinkan diri menikmati segala jenis makanan dalam porsi wajar.
- Prioritaskan nutrisi seimbang (protein, serat, lemak sehat) secara alami, bukan paksaan.
Pendekatan non-restrictive ini sejalan dengan tren kesehatan 2026 yang lebih menekankan kesejahteraan holistik daripada angka timbangan semata. Bagi yang ingin mencoba, konsultasikan dulu dengan ahli gizi atau dokter untuk penyesuaian personal, terutama jika ada kondisi kesehatan khusus.
Dengan teknik ini, diet bukan lagi soal pantang-pantangan, melainkan kembali percaya pada tubuh sendiri. Siap mencoba hidup lebih bebas dan sehat tanpa "anti" makanan favoritmu.











.sm.jpg)


















.md.jpg)






