Kabar Duka! Sesepuh Sedulur Sikep Blora, Mbah Pramugi, 'Ganti Sandangan'
Minggu, 22 Februari 2026 16:00 WIBOleh Tim Redaksi
Blora – Duka mendalam menyelimuti Sedulur Sikep Sambongrejo, Kecamatan Sambong, setelah sesepuh mereka, Mbah Pramugi Prawiro Widjojo, tutup usia pada Sabtu malam (21/2/2026) pukul 22.00 WIB. Mbah Pramugi meninggal di usia 68 tahun setelah kurang lebih satu tahun terakhir kesehatannya terganggu.
Mbah Pramugi meninggal setelah pulang dari berobat rutin di RSU Sultan Agung Semarang. Kepala Desa Sambongrejo, Wahono Heru Prayitno, mengatakan bahwa sekitar pukul 18.35 WIB, Mbah Pramugi pulang dari berobat rutin. Namun, sekitar pukul 22.00 WIB, kabar meninggalnya Mbah Pramugi tersebar.
"Di malam hari, sekitar pukul 18.35 WIB, beliau pulang dari berobat dan sekitar pukul 22.00 WIB Mbah Pramugi tutup usia," ucap Heru.
Heru mengatakan bahwa di mata masyarakat Sambongrejo, Mbah Pramugi sangat ditokohkan karena pitutur luhurnya. Setiap Jumat Legi, ada sarasehan yang diisi dengan pitutur luhur dalam kehidupan yang sangat berarti bagi masyarakat.
"Kami tentu sangat kehilangan atas meninggalnya Mbah Pramugi ini, sebab beliau sangat ditokohkan baik di desa maupun di Kabupaten Blora," tuturnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, tampak peziarah memadati rumah duka di Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Blora. Di lokasi juga nampak beberapa karangan bunga dari berbagai pejabat dan tokoh terpajang di sekitar rumah duka. Sebagian dari peziarah tampak mengenakan pakaian serba hitam dan iket kepala yang identik dengan pakaian khas Sedulur Sikep.
"Mbah Pramugi dimakamkan di makam umum Desa Sambongrejo dan tidak ada makam khusus," terangnya.
Pesan terakhir Mbah Pramugi sebelum sakit adalah mengingatkan kerukunan wilayah dan selalu menjaga kebersihan.
Gunretno, tokoh Sedulur Sikep Samin dari Pati yang hadir di ganti sandangan (pemakaman) Mbah Pramugi, mengaku kehilangan sosok Kang Pramugi (sapaan akrabnya kepada almarhum).
"Saya hadir di sini hormat atas meninggalnya Kang Pram, jadi saya dapat kabar Kang Pram ganti sandangan cukup kaget, saya ikut kehilangan," ucapnya.
Menurutnya, Mbah Pramugi adalah salah satu orang yang mengakui orang wong Sikep seperti Mbah Samin Surosentiko. Di era reformasi Orde Baru, Mbah Pramugi getol mempertahankan tata cara Sikep agar tetap tersalurkan ke anak cucu.
Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, mengucapkan belasungkawa yang mendalam atas ganti sandangan Mbah Pramugi.
"Nderek bela sungkawa atas berpulangnya orangtua kami, tokoh adat kami, sesepuh kami, sesepuh Sedulur Sikep Desa Wisata Kampung Samin Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora. Mbah Pramugi Prawiro Widjojo," ucapnya.
Menurut Bupati Arief, Mbah Pramugi adalah orangtua yang baik dan tokoh pelestari kebudayaan yang aktif menularkan ilmu dan pengalamannya kepada generasi muda.
"Bahkan pernah menerima penghargaan Kalpataru tingkat Nasional berkat gerakan pelestarian alam di Kampung Samin Sambongrejo. Kami bersaksi beliau benar-benar orang yang baik," tulisnya.
"Sugeng tindak Mbah, semoga seluruh amal baiknya diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa tabah ikhlas, aamiin," pungkasnya.(red/toh)






























.md.jpg)






