Pemkab Bojonegoro Gelar Gerakan Pangan Murah di Desa Penganten, Antusias Warga Tinggi
Sabtu, 28 Februari 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Lapangan Futsal Desa Penganten, Kecamatan Balen, mendadak berubah menjadi pusat perhatian warga pada Jumat (25/02/2026). Ratusan warga dari arah tampak antusias memadati area tersebut sejak pagi hari. Mereka datang memanfaatkan program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
Kegiatan ini bukan sekadar pasar murah biasa. Berdasarkan data resmi yang dihimpun di lapangan, agenda GPM kali ini sukses membukukan total omzet penjualan yang cukup fantastis, yakni mencapai lebih dari Rp39 juta hanya dalam kurun waktu satu hari pelaksanaan.
Beras dan Minyakita menjadi buruan utama warga. Tingginya angka penjualan tersebut menjadi indikator nyata betapa masyarakat sangat membutuhkan akses pangan dengan harga terjangkau. Dari berbagai komoditas yang disediakan, beras tetap menjadi "primadona" yang paling banyak diburu. Tercatat, sebanyak 1.000 kilogram atau 1 ton beras ludes terjual dalam waktu singkat. Menyusul di posisi kedua adalah produk Minyakita, yang volumenya terus menipis seiring dengan tingginya permintaan warga.
Kepala DKPP Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengungkapkan bahwa fenomena ini sudah diprediksi sebelumnya mengingat kedua komoditas tersebut merupakan kebutuhan pokok harian yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga di pasar umum.
"Tingginya angka penjualan beras dan minyak goreng ini sangat wajar. Kami bersyukur, meskipun antusiasme warga luar biasa besar, seluruh proses transaksi berjalan dengan tertib, aman, dan sesuai rencana," ujar Zaenal Fanani di sela-sela kegiatan.
Ada yang istimewa dalam pelaksanaan GPM di Desa Penganten kali ini. Untuk meringankan beban pengeluaran rumah tangga, Pemkab Bojonegoro memberikan intervensi khusus berupa subsidi harga telur ayam ras sebesar Rp5.000 per kilogram. Langkah ini diambil berkat kolaborasi strategis dengan BPR Bank Daerah Bojonegoro. Melalui subsidi tersebut, harga telur yang ditawarkan jauh di bawah harga pasaran saat ini, sehingga menjadi daya tarik tambahan bagi kaum ibu yang hadir.
Tak hanya fokus pada bahan pokok (sembako), GPM kali ini juga berfungsi sebagai wadah pemberdayaan ekonomi lokal. Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari desa setempat turut dilibatkan. Mereka memamerkan berbagai produk olahan makanan dan jajanan kreatif yang turut mendongkrak perputaran uang di lokasi kegiatan.
Keberhasilan di Desa Penganten ini dipastikan bukan merupakan titik akhir. Pemkab Bojonegoro menegaskan komitmennya untuk terus melaksanakan program serupa secara berkelanjutan di berbagai wilayah lainnya.
"GPM ini bukan sekadar pasar murah musiman atau aksi reaktif semata. Ini adalah langkah strategis kami dalam menjaga stabilitas pasokan, memastikan keterjangkauan harga bagi rakyat, dan yang terpenting menjadi instrumen utama dalam pengendalian inflasi daerah di seluruh wilayah Kabupaten Bojonegoro," tutup Zaenal dengan optimis.
Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan daerah, dan partisipasi aktif masyarakat, Gerakan Pangan Murah diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan ekonomi bagi warga dalam menghadapi dinamika harga pangan global.
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mohamad Tohir
































.md.jpg)






