Bojonegoro Butuh Gedung Seni Teater
Jumat, 15 April 2016 13:00 WIBOleh Piping Dian Permadi
Oleh Piping Dian Permadi
Kota - Panitia pelaksana lomba Teater Tradisi menilai sudah saatnya Bojonegoro memiliki gedung seni teater. Gedung ini nantinya sebagai sarana penunjang pengembangan bakat pelajar dalam dunia seni peran. Teater Tradisi termasuk salah satu bidang seni yang diperlombakan pada gelaran Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Kabupaten Bojonegoro tahun ini.
Pada hari pertama Porseni, Kamis (14/04) kemarin, lomba Teater Tradisi diselenggarakan di aula Sabha Sita Adi Kridha Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. Menurut jadwal Teater Tradisi digelar dua hari, 14-15 April, dan diikuti 45 regu dari tingkat SD sampai SLTA. Untuk lomba tingkat SD dan SLTP sudah selesai kemarin, sedangkan hari ini, Jumat (15/04), lomba teater dilanjutkan untuk tingkat SLTA.
Adi Sutarto SPd, selaku panitia pelaksana lomba, mengungkapkan, pihaknya mengalami kendala sarana tempat lomba. Aula Sabha Sita Adi Kridha milik Dinas Pendidikan yang digunakan lomba saat ini dinilai kurang standar. Apalagi jika digunakan untuk pertunjukkan teater. Sebab, selain kondisi suara yang tidak bisa teredam dengan baik, juga terasa panas.
"Suara dari peserta tidak terdengar jelas, belum lagi jika kondisi sedikit ramai dari para penonton," ujarnya kepada beritabojonegoro.com, Jumat (14/04).
Dia mengatakan, sudah saatnya Bojonegoro memiliki gedung teater yang memadai untuk mendukung bakat dari para pelajar. Karena pada 2015 lalu regu teater pelajar SMA di Bojonegoro mendapat penghargaan sebagai regu terbaik secara nasional dalam sebuah lomba.
"Teater pelajar kita sudah terbaik di tingkat nasional, melihat antusiasme dari para peserta di sini saya bisa melihat ada sebuah impian pada diri setiap siswa yang saat ini mengikuti lomba. Karena itu kita harus mendukung, salah satunya dari sisi sarana tersebut," tutur Adi.
Adi menyebutkan, ada sedikit peningkatan jumlah peserta pada Porseni tahun ini dibanding tahun lalu. Pada tingkat SD tercatat 13 regu, tahun lalu hanya 10 regu. Tingkat SMP 15 regu, sebelumnya 10 regu, dan SMA 17 regu yang sebelumnya 8 regu.
Dalam lomba Teater Tradisi kali ini, panitia mendatangkan 3 juri yang kompeten dibidangnya. Ketiga juri itu, Bisho Warno dari Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk, Deni dari STKW Teater, dan Novin, seorang guru kesenian dari Lamongan.
Secara terpisah, Kasi Diklat Pemuda dan Seni Bidang Pemuda dan Olahraga Dinas Pendidikan Bojonegoro Suyanto, mengatakan, panitia pelaksana telah berusaha memberikan fasilitas terbaik, serta menjaga independensi para juri. Maksudnya agar proses penilaian tidak dipengaruhi oleh oknum peserta yang ingin menang dengan jalan pintas. "Kita sudah tekankan kepada seluruh juri agar berlaku adil dan apa adanya," ujarnya.
Seluruh peserta diberikan kesempatan untuk tampil di panggung selama 15 sampai 20 menit. Panitia juga menekankan kepada penonton agar tidak membuat suara gaduh saat peserta sedang tampil di depan.
Dari pantauan beritabojonegoro.com, kemarin, kondisi gedung memang sedikit panas. Selain itu pada saat lomba tingkat SD banyak penonton yang membuat suara sehingga mengganggu para peserta, selanjutnya kondisi lebih tertib saat tingkat SLTP. (pin/tap)










































.md.jpg)






