Memeringati Hari Buku Sedunia 23 April
Minggu, 24 April 2016 13:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota - Hari buku sedunia atau World Book Day jatuh pada 23 April kemarin. Hari itu dianggap sebagai peringatan yang penting oleh para pemerhati masalah perbukuan. Buku dianggap sebagai kekuatan yang mengiringi zaman menjadi lebih baik.
Salah satu pecinta buku,Wahyu Rizki (28), mendukung itu. Dia mengaku menyukai buku sastra klasik dunia seperti Leo Tolstoy, Sir Arthur Conan Doyle dan Charles Dickens. Dia memiliki banyak koleksi bacaan di rumahnya, turut Kecamatan Padangan yang sedia untuk dimanfaatkan bersama.
“Buku adalah representasi ilmu. Tentu, dengan membaca buku, dipastikan orang memiliki pemahaman pada 'sesuatu' dengan lebih banyak dari yang tidak membaca buku," ungkapnya kepada beritabojonegoro.com (BBC), Sabtu (23/04) kemarin.
Menurut dia, 23 April sebagai hari buku sedunia memang menjadi hari raya bagi mereka yang peduli terhadap buku dan dunia membaca. Bentuknya bisa bermacam cara, misalnya dengan mengadakan kegiatan yang yang berkaitan dengan buku seperti diskusi, bazar, donasi, dan lain-lain. Serta yang tidak kalah penting, memahami semangat dibalik hari buku dicetuskan.
Hari Buku Sedunia dirayakan untuk pertama kalinya pada tanggal 23 April 1995. Acara tahunan ini digagas oleh UNESCO untuk mempromosikan budaya membaca, penerbitan, dan hak cipta.
Nur Khayan, salah satu mahasiswa IAI Sunan Giri mengatakan, bahwa hari buku perlu dirayakan. Tidak harus meriah, yang penting menggalakkan budaya membaca buku. "Melihat kurangnya minat membaca pada generasi muda, mereka perlu untuk ditulari virus membaca buku. Kebutuhan membaca seharusnya seperti makan tiga kali sehari,” katanya.
Beberapa komunitas yang percaya pentingnya budaya literasi, seperti komunitas Atas Angin di Bojonegoro kota, ikut merayakan dengan diskusi kecil-kecilan. Meraka membadah sebuah karya sastra klasik yang berasal dari penulis Jepang, Edogawa Rampo.
Ikal Noor Hidayat, salah satu pegiat komunitas Atas Angin, mengatakan cerpen itu bagus sekali untuk dibaca dan dikabarkan kepada khalayak. Baginya persoalan membaca adalah bagaimana cara orang memandang dunia. Orang bisa belajar dari tokoh-tokoh dari cerita-cerita yang ditulis oleh para sastrawan ternama."Cerpen yang dibedah kali ini adalah karya Edogawa Rampo yang berjudul Neraka Cermin, sebuah cerita misteri yang memadukan horror dengan sains. Keren sekali," kata Ikal. (ver/moha)










































.md.jpg)






