Diskusi Mengenang Pramoedya Bersama Langit Tobo
Sabtu, 30 April 2016 20:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Purwosari - Hari ini, 30 April merupakan sepuluh tahun kematian Pramoedya Ananta Toer, salah satu sastrawan besar yang dimiliki Indonesia. Komunitas Karya Langit Tobo menggelar diskusi peringatan haul sastrawan asal Kabupaten Blora yang beberapa kali menjadi kandidat peraih Nobel Sastra itu, Sabtu (30/04) sore.
Salah satu peserta diskusi Aw Syaiful Huda, direktur Bojonegoro Institute, mengungkapkan betapa sayang tidak ada kegiatan untuk membahas kehebatan Pram pada momen ini. Padahal, kata Aw, Pram dan karyanya itu hebat. "Pram merupakan orang hebat, orang luar biasa. Namun hari kematiannya ini, justru tidak ada orang yang membahas kehebatan Pram,” begitu Aw berkata.
Tentang kehebatan karya Pram, Awe menceritakan tentang kondisi mahasiswa di zaman Orde Baru dulu. Buku-buku Pramoedya kala itu menjadi larangan untuk dibaca sehingga para mahasiswa sat itu menerima ancaman kalau membacanya. Bahkan, Pram sendiri dijebloskan ke penjara karena karya-karyanya. "Bahkan ada anggapan bahwa Pram merupakan komunis dan anti agama. Pernah sebuah pertanyaan dilontarkan pada Pram 'apakah dia percaya agama?' Dia tidak menjawab secara substansinya. Dia menjawab 'saya keluar dari penjara, karena diri sendiri' begitu," imbuhnya.
Menurut Aw, sebenarnya yang dikritik pram bukan agamanya, melainkan pemeluk agama yang tidak memiliki rasa empati terhadap lingkungan. “Di dalam novelnya, kita akan menemukan nilai yang luar biasa. Misalnya, kaum terpelajar itu harus adil sejak di dalam pikiran apalagi dalam perbuatan, “ kata Aw.
Kehebatan Pramoedya ini menimbulkan pertanyaan besar pada benak Ikhsan Fauzi, peserta lainnya. Yakni, bagaimana seorang Pram bisa menghasilkan karya yang membutuhkan banyak riset, padahal hidupnya sering sekali dipenjara dalam waktu yang lama.
"Kata Hasudungan Sirait, dalam bukunya Pram Melawan!, Pram selain bisa menulis dengan bagus, daya ingatnya juga luar biasa kuat," ujar Ikhsan dengan penuh kagum.
Pram juga pernah menjadi dosen, lanjut Ikhsan, padahal dia tidak lulus SMP, yakni di kampus bernama Respublika yang sekarang menjadi Universitas Trisakti Jakarta itu. Dengan metode belajar yang dia terapkan saat itu , mengkliping koran-koran lama, dia sebenarnya sudah merencanakan membuat karya besar di masa yang akan datang. Karya itu baru bisa diwujudkan saat berada di penjara Pulau Buru. “Pram adalah orang yang sangat senang pada kerja dokumentasi. Hanya ada dua orang di Indonesia yang memiliki kekuatan seperti itu, yaitu Pramoedya dan HB Jassin,” tegas Ikhsan.
Kepribadian Pram yang selalu membela orang yang tertindas dalam setiap karyanya ini ternyata dilatarbelakangi oleh pendidikan di rumah. Hal itu diungkapkan oleh peserta lainnya, Timur Budi Raja. "Pram dibesarkan orang tuanya dengan baik. Ibunya berpengaru besar dalam membentuk kepribadian Pram menjadi sosok yang mandiri,” kata penulis buku Opus 154 itu.
Membahas Pram, Timur teringat kisah seorang penyair asal Yunani bernama Alexandros Panagulis yang mana dia dipenjara dan diperlakukan tidak manusiawi oleh penguasa karena tulisan-tulisannya. "Namun dia tetap berkarya. Tidak ada kertas, pulpen atau tinta. Dia menulis di dinding dengan darah. Jadi dia sengaja melukai jarinya sendiri untuk menulis,” jelas Timur.
Timur melanjutkan, penguasa saat itu merasa perlu sedemikian jauhnya memperlakukan para sastrawan. Itu membuktikan bahwa sastra punya peran penting dalam kehidupan ini. Orang-orang seperti salah satunya Pramoedya Ananta Toer telah membuktikannya. (ver/moha)










































.md.jpg)






