Komisi C Awasi Kinerja Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah
Selasa, 22 September 2015 10:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota – Komisi C DPRD Bojonegoro terus memantau kinerja Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TPKD) Kabupaten Bojonegoro. Tim ini dibentuk dalam rangka mengawal program pengentasan kemiskinan di Bojonegoro.
Sebagai daerah yang kini dikenal dengan industri minyak dan gas bumi (migas) pertumbuhan ekonomi di Bojonegoro cukup pesat. Bahkan, Bojonegoro kini merupakan daerah terkaya kelima di Jawa Timur. Pendapatan dari sektor minyak dan gas bumi paling tinggi di Jawa Timur. Namun, di sisi lain kemiskinan di Bojonegoro juga masih tinggi.
Menurut Wakil Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro, Abdullah Umar, kinerja TPKD memang terus didukung dan dikawal agar upaya pengentasan kemiskinan di Bojonegoro bisa maksimal. Komisi C membidangi masalah pendidikan dan kesejahteraan sosial.
“Kami terus memantau kinerja tim ini, supaya angka kemiskinan di Bojonegoro terus berkurang,” ujar Umar, kemarin.
Hanya saja, dia mengaku belum mendapatkan progres data jumlah kemiskinan dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk tiga tahun terakhir ini. “Untuk data terbaru, masih menunggu hasil validasi. Dan kami minta BPS benar-benar memverifikasi jumlah rumah tangga miskin di Bojonegoro,” ujarnya.
Disinggung adanya tingkat kesenjangan (gini rasio) yang semakin meningkat, politisi asal PKB ini mengaku masih belum mendapatkan informasi dari TPKD setempat. "Belum kami dapat informasi itu," paparnya.
Sementara itu menurut data yang diungkap Bojonegoro Institut (BI), sebuah lembaga nirlaba yang fokus soal kemiskinan dan tata kelola migas di Bojonegoro menyebutkan, saat ini Bojonegoro tercatat sebagai daerah terkaya nomor lima di Jawa Timur. Akan tetapi, di sisi lain angka kemiskinan di Bojonegoro juga tinggi yaitu peringkat ke sembilan di Jawa Timur.
Direktur Bojonegoro Institut, AW Saiful Huda mengatakan, kemampuan fiskal Bojonegoro saat ini di atas rata-rata daerah di Jatim. Pada tahun 2015 ini misalnya kemampuan APBD Bojonegoro mencapai Rp3,8 triliun. Penyumbang paling banyak pemasukan bagi daerah adalah dari sektor minyak dan gas bumi (migas).
Data tahun 2012-2014 menunjukkan pendapatan Bojonegoro termasuk tertinggi kelima di Jawa Timur. Kendati demikian, kata dia, menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2013, tingkat kemiskinan di Bojonegoro menempati peringkat ke-9 di Jawa Timur.
Susenas 2013 juga menyebut jumlah warga miskin di daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas) itu sebanyak 196 ribu jiwa. Kantong kemiskinan, kata dia, paling banyak berada di desa-desa pinggiran hutan dan juga di sekitar ladang migas.
Desa Mojodelik, Gayam, dan Katur Kecamatan Gayam, misalnya yang merupakan desa penghasil migas Banyu Urip, Blok Cepu, juga tercatat merupakan salah satu desa kantong kemiskinan.
Selain itu tingkat kesenjangan atau gini rasio di Bojonegoro juga terus naik. Pada Tahun 2011 sebesar 0,27 persen, tahun 2012 sebesar 0,31 persen dan tahun 2013 sebesar 0,42 persen. Artinya distribusi sumber daya dan basis sosial di Kabupaten Bojonegoro masih belum merata. (ver/kik)
Gambar ilustrasi diliputnews.com






































