News Ticker
  • Jembatan Akses Desa Wotan dan Sambongrejo di Bojonegoro Ambrol Tergerus Aliran Sungai
  • Viral! Unggahan Medsos di Bojonegoro Ini Minta Pengkritik Program MBG Pindah Negara
  • Pemprov Jatim Mulai Terapkan Pembatasan Penggunaan Gadget di Sekolah
  • Okupansi Penumpang Kereta Api di Stasiun Bojonegoro Melonjak Drastis Sepanjang Awal Tahun 2026
  • Tersengat Listrik saat Potong Ranting Pohon, Warga Temayang, Bojonegoro Meninggal Dunia
  • Wakil Bupati Blora Dorong Pembangunan Embung di Cepu untuk Atasi Banjir Tahunan
  • Sumari, Kuli Panggul di Blora Naik Haji Tahun Ini Setelah 20 Tahun Sisihkan Uang Receh
  • Respons Cepat Laporan Warga, Satpol PP Bojonegoro Amankan ODGJ yang Resahkan Pengguna Jalan
  • Bawa Senjata Tajam, Penderita Gangguan Mental di Bubulan, Bojonegoro Diamankan Polisi
  • Pemkab Bojonegoro Gelar Gerakan Pangan Murah Edisi ke-18 di Kalitidu
  • Prakiraan Cuaca 15 April 2026 di Bojonegoro
  • 15 April dalam Sejarah
  • Panduan Lengkap Prompt AI untuk Media Sosial, Blog, dan YouTube Anda
  • Dinas Perhubungan Bojonegoro Gembok Mobil Siaga Desa yang Parkir Sembarangan
  • Film Tunggu Aku Sukses Nanti, Potret Realita Kelas Menengah yang Hangat di Momen Lebaran
  • Antisipasi Kemarau Panjang, Pemkab Bojonegoro Optimis Tetap Jadi Pilar Lumbung Pangan Jawa Timur
  • Pemkab Bojonegoro Salurkan Bansos Total Rp 8,32 M untuk Penanganan Kemiskinan Ekstrem dan Stunting
  • BUMD Bojonegoro Raih Penghargaan Bergengsi di Ajang TOP BUMD Awards 2026
  • Tiga Langkah Strategis Pemprov Jatim Tingkatkan Kemampuan Fiskal Daerah
  • 3 Bahan Alami Jaga Kesehatan Ginjal Kita
  • Bocah Jenius Dander Curi Perhatian, Wabup Bojonegoro Dukung Inovasi Sepeda Listrik Daffa
  • 14 April dalam Sejarah
  • Prakiraan Cuaca 14 April di Bojonegoro
  • Seleksi Calon Paskibraka Bojonegoro 2026 Masuki Tahap Tes Parade
Cerita Takir Plontang dan Bocah Tenggelam

Cerita Takir Plontang dan Bocah Tenggelam

Oleh Totok AP

ALHAMDULILLAH, setelah berupaya keras selama 3 hari, Tim SAR berhasil menemukan jenazah Anisa Nurhayati, pelajar putri asal Desa Nguken Kecamatan Padangan, yang tenggelam di Bengawan Solo.

Penemuan itu tentu membuat keluarga korban lega dan ikhlas. Tak enak juga, selama tiga hari menanggung beban harap-harap cemas. Rasanya, ya pahit-pahit getir plus masam.

Atas musibah ini, semoga Allah memberikan ketabahan dan kesabaran kepada keluarga korban. Begitu juga kepada kerabat, teman, bapak-ibu guru, dan orang-orang yang pernah akrab bersama almarhumah.  

Lebih penting lagi, semoga saja kejadian yang menimpa Anisa menjadi pelajaran bagi siapa saja. Khususnya kawula muda, agar lebih hati-hati dalam beraksi melakukan swa foto. Bagaimanapun keselamatan diri lebih utama, daripada hanya sekadar tenar dan pujian.

Di luar itu, sebenarnya bagi saya ada satu misteri yang menggugah memori. Ceritanya begini, setelah mencermati lokasi tercebur dan tenggelamnya Anisa, ingatan saya langsung terbang pada pertengahan 1990. Kala itu di lokasi yang sama pernah ada 3 bocah SD tenggelam dan tewas.

Saya waktu itu baru duduk kelas 1 SMA. Dan kebetulan turut menyaksikan proses pencarian hingga penemuan ketiga jenazah bocah SD itu.

Dulu, jembatan kereta api dobel trek di Desa Dengok Kecamatan Padangan tempat jatuhnya Anisa itu, belum ada. Jembatan ini baru dibangun sekitar tahun 2014. Itu pun bergeser ke selatan 100 meter dari jembatan kereta api yang lama.

Dulu pula, di lokasi tenggelamnya Anisa itu dikenal orang dengan sebutan Kedung Ngaron. Kalau tidak salah, “Ngaron” ini menunjuk pada produk gerabah tanah liat sejenis kuali berukuran besar. Kenapa disebut Kedung Ngaron? Konon, kata Mbah-Mbah dahulu kala pernah ada perahu yang memuat Ngaron terguling di lokasi itu.

Dan, orang Jawa menyebut “Kedung”, karena dipastikan di lokasi itu kedalaman airnya lebih atau ngerong, istilahnya. Sebab itu, aliran dan arus airnya hanya berputar di situ membentuk pusaran atau uwer.

Saya cukup akrab dengan Kedung Ngaron ini. Karena saya lahir dan besar di kampung Balun Sudagaran Kecamatan Cepu yang berada di seberang kedung tersebut. Letak Kedung Ngaron berada di wilayah Dengok Kidul Kecamatan Padangan.

Di atas kedung itu dulu dipasangi bronjong batu yang dijadikan buffer jembatan kereta api lama. Dan, tumbuh satu pohon Lo yang rindang. Kerap juga saya main perahu lewat di kedung ini. Hawanya memang serem, sejuk, dan penuh mistis. Kata orang ada “penunggunya”. Lokasi ini juga surganya para pemancing, ikan jambalnya besar-besar.

Kembali ke cerita 3 bocah SD yang tenggelam di Kedung Ngaron. Mereka tenggelam pada pagi jelang siang. Saat itu musim kemarau. Air bengawan tampak dangkal, jernih dan tenang.

Saking jernihnya, menggoda bocah-bocah SD itu mandi ke sungai. Mereka bermain air, semakin ke tengah hingga tak sadar kalau geraknya memasuki kedung Ngaron. Dan terjadilah musibah itu. Mereka tenggelam, atau klelep.

Sebenarnya ada 4 bocah yang awalnya bermain di tepi bengawan, namun satu tidak ikut mandi. Ketika melihat ketiga temannya klelep, satu bocah ini berlari dan minta tolong ke warga yang kebetulan berada di dekat lokasi.

Oh ya, ketiga bocah itu mandi dari tepi bengawan wilayah Cepu. Karena mereka warga Cepu. Tapi bukan warga asli tepi bengawan. Kata Mbah, kebanyakan orang yang klelep bukan orang asli tepi bengawan.

Tahu ada bocah klelep, warga sekitar bengawan langsung berupaya menolong. Dalam upaya itu satu bocah berhasil diangkat, kondisinya sudah meninggal. Sedangkan dua lainnya belum. Dicari hingga malam dua bocah belum juga ditemukan. Keesokan hari juga tetap tidak ditemukan.

Ingat, dulu itu belum ada tim SAR.

Entah ide siapa, tahu-tahu ada warga yang mendatangkan wong sepuh atau “orang pintar”. Oleh wong sepuh ini, keluarga korban diminta membuat ubarampe “takir plontang”. Takir plontang terbuat dari daun kelapa muda (janur) yang dianyam membentuk suatu wadah.

Dalam takir berisi telur ayam kampung, kembang , beras kuning, dan beberapa isian lain. Saat itu hanya bikin satu takir plontang saja.

Setelah siap, wong sepuh tadi dengan naik perahu melarungnya menuju Kedung Ngaron. Tentu sambil membaca doa. Usai melarung, wong sepuh balik ke tepi bengawan.

Beliau bilang, nanti tunggu kemana takir itu berjalan. Kalau takir hanya berputar-putar saja di satu lokasi, maka di situlah jenazah dua bocah berada. Tak sampai sejam takir itu berputar-putar di atas Kedung Ngaron.

Kebetulan masa itu masih ada manusia perahu. Mereka tiap hari mangkal di tepi bengawan wilayah Cepu, yang mungkin sekarang berada di bawah jembatan kereta api dobel trek yang baru. Pekerjaan mereka mencari ikan, pulang ke rumah di Dusun Nogong Desa Prangi Kecamatan Padangan, seminggu sekali. Biasanya terdiri 5 perahu, dan tiap perahu berawak 2 orang. Alat penangkap ikan yang digunakan berupa jala yang panjang mencapai 6 sampai 10 meter.

Warga pun minta tolong manusia perahu ini untuk menebar jala di lokasi berputarnya takir plontang. Tak ada sejam, usai jala ditebar, ketika diangkat tersangkutlah dua jenazah dua bocah itu. Dalam dua siang, satu malam, korban akhirnya ditemukan.

Ini cerita dulu sebelum Tim SAR ada. Teknologi pencarian korban masih sederhana, hanya takir plontang, jala ikan, dan perahu kayu.

Beda jauh dengan sekarang, Tim SAR sudah menurunkan perahu karet bermesin, lampu sorot, rompi  pelampung, hingga kantong mayat. Bahkan menerapkan teknik melebur, perahu karet bermesin berputar-putar di atas Kedung Ngaron, agar endapan lumpur terangkat dan jenazah pun ikut naik. Tapi malah ketemunya jauh di wilayah Kanor.

Kalau saja sekarang masih pakai takir plontang, sudah pasti ditertawakan orang. Wong zamannya sudah GPS dan selfie kok masih pakai takir plontang. Ya itu dulu...mana yang lebih unggul, pembacalah yang lebih tahu. Beda zaman beda tatanan. Bukankah demikian? (*/tap)

 

 

Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark (PIGG) Bojonegoro, yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro, ...

Teras

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

Menyoroti Konsep Penanggulangan Bencana di Bojonegoro

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

"Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. ...

Opini

Trump Naikkan Tarif China: Perang Dagang Dimulai Lagi, Siapa yang Akan Paling Terluka?

Trump Naikkan Tarif China: Perang Dagang Dimulai Lagi, Siapa yang Akan Paling Terluka?

Surabaya - Ketegangan perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat dan China kembali memanas pada tahun 2025. Situasi ini seperti ...

Sosok

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bojonegoro - Berbeda dari anak-anak seusianya, seorang bocah dari Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini justru memiliki minat besar ...

Infotorial

ExxonMobil di Blok Cepu Siap Hadapi Target Produksi 2026

ExxonMobil di Blok Cepu Siap Hadapi Target Produksi 2026

Bojonegoro - Sepanjang 2025, produksi minyak Blok Cepu kembali melampaui target pemerintah. ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), sebagai operator salah satu ...

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Blora - Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD dan warga sekitar terus melakukan pencarian terhadap serpihan pesawat tempur T-50i Golden ...

Religi

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Judul itu menjadi tema pembekalan sekaligus pengajian Rabu pagi (24/01/2024) di Masjid Nabawi al Munawaroh, Madinah, kepada jemaah umrah dari ...

Wisata

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, pada Rabu malam (18/03/2026), bertempat di Jalan Mas Tumapel Bojoonegoro, melaunching Kalender Event Bojonegoro ...

Hiburan

Panduan Lengkap Prompt AI untuk Media Sosial, Blog, dan YouTube Anda

Panduan Lengkap Prompt AI untuk Media Sosial, Blog, dan YouTube Anda

Para kreator konten dihadapkan pada tuntutan produksi yang luar biasa besar di ruang digital. Persoalan utamanya kini bukan sekadar memproduksi ...

1776247394.2388 at start, 1776247394.6154 at end, 0.37663507461548 sec elapsed