Forum Dengar Pendapat Komisi C DPRD bersama pegiat TBM Bojonegoro
TBM Tidak Semestinya Dianaktirikan
Kamis, 21 April 2016 08:00 WIBOleh Betty Aulia
Oleh Betty Aulia
Kota – Taman Baca Masyarakat (TBM) menjadi bagian penting di dunia pendidikan, dengan kelengkapan pustaka dan perhatiannya pada dunia baca. Keberadaannya di masing-masing desa di Kabupaten Bojonegoro dirasa dekat dan dibutuhkan. Masalahnya, selama ini keberadaan dan peran TBM kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Hal itulah yang membuat Komisi C menggelar hearing atau forum dengar pendapat bersama para aktivis Forum TBM di Bojonegoro, kemarin, Rabu (20/04).
Dari pantauan beritabojonegoro.com (BBC) di lokasi, nampak seluruh anggota Komisi C hadir di ruangan. Ketua Komisi C Wawan Kurniyanto memimpin langsung jalannya forum yang bersifat dialog itu.
Salah satu pengurus Forum TBM, Bangun Setiawan, bicara mengenai harapan-harapan TBM dan masalah yang tengah mereka alami. Menurut Bangun, selama ini pemerintah kurang memberikan perhatian dan dukungan kepada TBM yang ada, padahal peran lembaga nonformal yang dinaungi Bagian PNFI Dinas Pendidikan itu punya peran penting. “Kondisi TBM saat ini banyak yang mengalami kekurangan jumlah buku, juga fasilitas-fasilitas lainnya yang semestinya ada,” kata Bangun menjelaskan.
Bangun melanjutkan, selain punya peranan penting, TBM juga punya prestasi dan membawa nama baik Bojonegoro di luar. Dia memberi contoh, salah satu TBM yang berada di Kecamatan Margomulyo tahun lalu mengukir prestasi tingkat nasional. “Sehingga TBM ini tidak bisa dianggap remeh lagi dengan sudah terbuktinya prestasi yang sudah diraih. Sementara TBM yang ada di seluruh wilayah Bojonegoro ini, kami perhatikan sedang mengalami krisis buku. Tidak sebanding dengan peran dan prestasi yang kami raih," tuturnya di depan anggota dewan.
Masih kata Bangun, faktanya saat ini TBM seakan-akan dianak tirikan oleh Pemkab Bojonegoro. Padahal TBM menjadi salah satu indikator desa cerdas yang digalakkan oleh Pemkab sendiri dewasa ini. Jelasnya, Pemerintah sudah sewajarnya mengalokasikan anggaraan untuk keberlangsungan TBM di tiap-tiap desa lewat dana desa. “Harapannya ke depan TBM dapat lebih diperhatikan oleh Pemerintahan agar bisa bergerak lebih baik lagi,” kata Bangun.
Wawan Kurniyanto kemudian menanggapi apa yang sudah dipaparkan oleh Bangun yang mewakili TBM. Dia merasa berterimakasih atas apa yang disampaikan para pegiat literasi (baca;dunia baca tulis) itu. Selaku Komisi C yang menangani masalah pendidikan, pihaknya mengaku baru kali ini mendengar sendiri permasalahan yang dihadapi TBM. Karena selama ini dari Dinas Pendidikan bagian PNFI khususnya belum pernah menjalin komunikasi terkait TBM ini.
"Ya syukurlah dari forum TBM ini segera menyampaikan keluh kesahnya kepada kami. Sehingga kami tahu karena selama ini belum pernah ada koordinasi dari pihak terkait," ungkap Wawan.
Wawan menyatakan kesanggupan Komisi C untuk menjawab semua keluh kesah TBM. Untuk menangani masalah tersebut, Komisi C akan menggelar dengar pendapat kembali dengan melibatkan Dinas Pendidikan Bidang PNFI. Dia setuju bahwa tidak semestinya TBM dianaktirikan.
"Untuk menjawab semua hambatan dari forum TBM, minggu depan akan kami agendakan dengar pendapat bersama lagi dengan Dinas Pendidikan dan forum TBM," pungkas Wawan. (ety/moha)











































.md.jpg)






